10 Fakta Kekejaman Anton, Pimpinan Padepokan Satrio Aji Depok Pemilik Kopi Sianida Maut

pemilik-padepokan-kacau

Sejumlah pemimpim padepokan yang melakukan tindakan asusila hingga membunuh korbannya sedang marak di negeri ini. Setelahi kassu Aa Gatot dan Kanjeng Dimas, kini muncul kasus Anton Hardianto alias Aji, pimpinan padepokan Satrio Aji Danurwenda, Depok Jawa Barat. Anton diduga membunuh anak buahnya dengan memberi racun pada kopinya.

Kasus pembunuhan ini disebut-sebut meniru kasus pembunuhan Mirna Salihin yang saat ini masih dalam proses peradilan. Dari hasil penelusuran yang dilansir pojoksatu.id, berikut 10 fakta kekejian pembunuhan Anton terhadap dua muridnya karena dibutakan oleh harta para korbannya:

1. Meracuni kopi dengan Potasium sianida
Anton, dalam pengakuannya sat diperiksa mengaku menghabisi muridnya dengan memberi bubuk sianida ke dalam kopi. Bubuk racun tersebut biasa digunakan untuk meracun ikan. “Jadi sianidanya itu biasa digunakan meracun ikan. Itu didapat pelaku waktu dulu, pengakuannya sisaan pas masih di Pacitan, Jawa Timur,” kata Kapolres Kota Depok, Kombes Herry Kurniawan.

2. Usai minum kopi, korban langsung muntah-muntah
Tak lama setelah meminum kopi yang dicampur racun sianida oleh Anton, korban langsung muntah-muntah, sebelum kemudian tewas. “Pengakuan pelaku, saat minum kopi, korban langsung muntah-muntah. Nah setelah itu langsung meninggal,” kata Herry.

Baca:   Pembunuhan Sadis di Pulomas, 6 Orang Ditemukan Tewas Bertumpuk-Tumpuk di Kamar Mandi

3. Anton meracuni dua anak buhanya sekaligus
Anton yang merupakan pemimpin di Padepokan Satrio Aji di Depok, Jawa Barat ini membunuh dua muridnya yakni Shendy dan Ahmad Sanusi sekaligus dengan racun potasium sianida. Setelah membunuh keduanya, jasad korban lantas dibuang menggunakan mobil di daerah Limo, Depok.

4. Kedua korba dibuang di tempat berbeda
Anton dengan tega dan tak merasa bersalah, setelah meracuni kedua anak buahnya, lantas membuangnya di tempat yang berbeda. “Satu di pinggir jalan. Satunya di pinggir sawah. Jasad mereka ditemukan pada tanggal 1 Oktober. Polisi memperkirakan kejadiannya pada Jumat tanggal 30 September.

5. Motif pembunuhan diduga soal harta
Sejauh ini, polisi terus mendalami kasus pembunuhan yang dilakukan Anton terhadap kedua anak buahnya. Polsi menduga, motif pembunuhan lantaran pelaku tergiur untuk menguasai barang-barang berharga milik korban. “Pertama barang milik korban. Ada dompet, beserta surat berharga, dan juga mobil,” tutur Herry lagi.

6. Polisi menemukan benda-benda keramat
Kapolrest Harry Kurniawan mengatakan, penyidik sudah melakukan penggeledahan di kediaman Anton, sebuah bedeng kecil di bilangan RW21, Kelurahan Mekarjaya, Sukmajaya, Depok. Saat penggeledahan, polisi menemukan beberapa barang klenik, seperti keris, pedang, jimat, bulu macan, sampai emas batangan palsu.

Baca:   Bercumbu 30 Menit dengan Siswa SMP & Takut Hamil Berujung Kelamin Eno Dicangkul

7. Anton melakukan perekrutan via medsos
Korban Shendy dan Sanusi merupakan pengikut Anton. Ia memiliki jumlah anggota yang cukup banyak yang direkrut lewat jejaring media sosial Facebook. Jumlahnya mencapai ratusan orang.

8. Modusnya Mirip Kanjeng Dimas
Kepada setiap pengikutnya, Anton mengaku bisa melakukan sejumlah hal-hal metafisika. Salah satunya penggandaan emas. Tentunya Anton meminta mahar. Uang pastinya. Hal ini sama dengan yang dilakukan Kanjeng Dimas yang saat ini juga dalam proses hukum di Mapolda Jawa Timur.

9. Anton mengeksekusi anak buahnya ke lahan kosong
Anton bersama kedua anak buahnya menuju ke sebuah lahan kosong di Jalan KSU, Kelurahan Tirtajaya, Sukmajaya. “Di tempat itu, diduga korban ingin melakukan penarikan metafisika berupa emas batangan. Tersangka ini juga ingin meminta sejumlah mahar. Dan mobil korban ini yang ia inginkan,” ucap Harry. Di sinilah Anton menyuguhkan kopi beracun tersebut.

10. Anton dijerat pasal berlapis
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, Anton dijerat dengan pasal berlapis. Pertama dikenakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.