10 Kelebihan luar biasa Soeharto yang tidak banyak diketahui

Soeharto

Tak ada gading yang tak retak. Demikian juga soal kehidupan setiap manusia, tidak ada yang berjalan mulus alias pasti punya kekurangan dan kelebihan. Demikian juga dengan kehidupan mantan Presiden ke 2 Indonesia, Soeharto. Terlepas dari Soeharto punya banyak kekurangan semasa ia memimpin Indonesia, Soeharto juga memiliki banyak kelebihan saat masa pemerintahannya. Dilansir laman Pojoksatu, berikut ini 10 kelebihan luar biasa yang belum banyak diketahui publik mengenai Soeharto.

1. Anak Petani Jadi Presiden
Orang hebat biasanya lahir dari keturunan orang hebat. Tapi itu tidak berlaku bagi sosok Soeharto. Meski ayahnya hanya seorang petani miskin dan ibunya menderita gangguan kejiwaan, Soeharto tumbuh menjadi orang hebat. Soeharto masuk dalam lingkaran militer yang disegani pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Bahkan, Soeharto berhasil menjadi presiden RI ke-2. Soeharto menjadi salah satu presiden terlama di dunia dengan memimpin selama 32 tahun.

2. Tumpas Pemberontakan Andi Azis di Sulawesi
Kondisi keamanan dalam negeri pasca Kemerdekaan RI tahun 1945 diwarnai dengan pemberontakan di sejumlah daerah. Salah satunya adalah pemberontakan Andi Azis di Sulawesi. Untuk mengatasi hal tersebut, Soeharto yang kala itu menjabat Komandan Brigade Garuda Mataram dengan pangkat letnan kolonel, ditugaskan untuk menumpas pemberontakan Andi Azis. Hasilnya cukup memuaskan, Soeharto berhasil mengambil alih kendali Andi Azis di Sulawesi.

3. Tokoh Utama Serangan Umum 1 Maret 1949
Soeharto merupakan pelaksana lapangan serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949 dilakukan untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada dan cukup kuat. Pasalnya, saat itu Belanda melakukan kampanye di dunia internasional bahwa TNI sudah tidak ada dan Indonesia dalam kekuasaan penuh Belanda. Yogyakarta dipilih sebagai sasaran serangan umum selama 6 jam itu karena Yogyakarta menjadi Ibukota RI kala itu. Sehingga bila Yogyakarta dapat direbut walau hanya untuk beberapa jam, akan sangat berpengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia melawan Belanda.

Baca:   Video Istri Pergoki Suami Simpan Wanita Bugil di Kamarnya, Hal Tak Terduga Pun Terjadi

Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota delegasi UNCI (KTN) serta pengamat militer dari PBB, menjadi salah satu alasan dilakukannya serangan di Yogyakarta. Sebab, para wartawan dan pengamat militer bisa menginformasikan bahwa kekuatan TNI masih cukup tangguh.

4. Menjabat Presiden Lewat Supersemar
Surat Perintah Sebelas Maret yang disingkat Supersemar menjadi cikal bakal Soeharto menjadi presiden. Supersemar yang hingga kini masih kontroversi itu ditandatangani Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk saat itu. Lewat Supersemar inilah, Soeharto mengambil alih kekuasaan di Indonesia dan menumpas PKI.

5. Memiliki Insting Kuat dan Strategi Jenius
Sebelum jadi presiden, Soeharto dikenal memiliki insting kuat dan strategi jenius dalam peperangan. Soeharto juga mampu membangun dan menaklukkan dirinya sendiri. Banyak spekulasi beredar mengenai kemampuan ‘sakti’ Soeharto, terutama karena insting dan strateginya yang jenius. Soeharto disebut-sebut kerap melakukan renungan dan bertapa meditasi, yang membuatnya mengerti hakekat hidup, sehingga Soeharto memiliki insting kuat dan strategi jenius.

6. Bapak Pembangunan
Setelah menjadi presiden, Soeharto dijuluki Bapak Pembangunan. Gelar itu tak lepas dari upaya Soeharto menata dan membangun Indonesia. Karenanya, kabinet Soeharto pun disebut Kabinet Pembangunan. Konsep Trilogi Pembangunan yang diusung Soeharto memang membawa bangsa ini pada kejayaan berkali-kali. Sebut saja masa-masa di mana Indonesia bisa mengalami swasembada beras, penekanan inflasi dari 650 persen hingga menjadi 12 persen saja, pembangunan waduk-waduk dan banyak lagi.

Baca:   Panen Gagal, Petani Jual Anak Untuk Bayar Utang dan Biaya Hidup

7. Redam Konflik dengan Malaysia
Jika Soekarno terkenal garang dan berani melawan Malaysia dengan melontarkan istilah ‘Ganyang Malaysia’, maka Soeharto justru sebaliknya. Soeharto lebih memilih berdamai dan merangkul saudara serumpun Melayu Indonesia itu lewat diplomasi. Kemampuan diplomasi Soeharto membuat PM Malaysia Mahathir Muhammad respek hingga keduanya berteman akrab. Indonesia dan Malaysia akhirnya saling mendukung dan memperkuat, baik di bidang budaya, seni, politik, maupun keamanan.

8. Redam Konflik Lewat Penyederhanaan Parpol
Pengalaman multipartai di zaman Soekarno mendapat pelajaran berharga bagi Soeharto. Pasalnya, di zaman multipartai, politisi Indonesia tak pernah berhenti berkonflik. Mereka mengedepankan partai dan kelompok, ketimbang memimikirkan bangsa. Karena itulah, gejolak politik di dalam negeri tidak pernah berhenti. Imbasnya, pembangunan jadi terhambat. Tak ingin terulang, Soeharto memilih menyederhanakan partai dari 40 lebih di zaman Soekarno menjadi 3 saja, yakni Golkar, PDI, dan PPP. Lewat penyederhanaan partai, Soeharto berhasil meredam gejolak politik.

9. Ciptakan Keamanan Lewat Petrus alias Penembakan Misterius
Soeharto memiliki penembak misterius alias Petrus yang bertugas memantau gerakan radikal yang membahayakan keamanan. Siapapun yang dianggap biang onar akan ditembak. Korban yang ditembak atau ditemukan meninggal begitu saja keesokan harinya, pada akhirnya memang terbukti sebagai orang-orang yang memiliki catatan masalah. Siapa pelaku Petrus itu? hingga masih misterius.

10. Belenggu Media
Soeharto mempertahankan kekuasannya selama 32 tahun karena berhasil membelenggu media. Soeharto tidak membiarkan media mengkritik sebebas-bebasnya, sehingga citra Soeharto di mata rakyat tetap harum. Jika ada media yang berani melakukan kritik keras dan menyudutkan pemerintah, maka siap-siaplah untuk dibredel. Beberapa media nasional pernah menjadi korban pembredelan gara-gara berani mengkritik pemerintah Soeharto.