5 Hal Paling Menyebalkan Orang Asing dari Orang Indonesia

menghargai waktu
Orang Indonesia dikenal oleh seluruh dunia sebagai orang yang paling ramah terhadap siapapun, walau baru pertama kali bertemu. Namun, jika terkait dengan soal profesionalitas, orang asing akan punya keluhan yang sama terhadap orang Indonesia. Satu hal pertama yang bikin orang asing sebal kerja dengan orang Indonesia adalah soal waktu. Janji bertemu jam 15.00 di suatu tempat, manusia produk Indonesia dengan tanpa bersalah berani mengatakan, “OK, saya berangkat!”, di jam yang sama.

Orang Indonesia lebih pandai berkata-kata bahwa Tuhan sudah berulang kali memperingatkan tentang urgensi waktu di dalam Kitab Suci, dengan redaksi Demi Masa, Demi Fajar, Demi Malam, Demi Cahaya Pagi dan seterusnya, ketimbang mengejawantahkan dalam laku sehari-hari, dikutip dari Rimanews.com, Sabtu (7/5/2016).

Kedua, semua orang asing harus selalu waspada dan siap-siap ada perubahan komitmen secara mendadak. Sudah mengatakan sanggup, orang Indonesia (mulai rakyat dengan level ekonomi paling sekarat hingga intelektual atau pejabat level atas) bisa membatalkan di menit-menit terakhir. Hal itu pun, mampu dilakukan dengan enteng, syukur-syukur jika ada permintaan maaf ala kadarnya.

Baca:   Apa Sih Alasannya Wanita Suka Berselingkuh Seperti Pria?

Perubahan dadakan, di banyak situasi, anehnya masih saja dianggap hal wajar dan biasa. Seorang penceramah sekali pun, yang seharusnya dia bisa diteladani, mudah sekali mengatakan tidak bisa datang karena ada urusan mendadak satu jam sebelum acara, di saat jamaah sudah menanti dengan manis. Bahkan, ada yang tak datang tanpa bisa dihubungi persis di jam acara. Mungkin mereka sudah amnesia jika komitmen adalah hutang, dan kesepakatan hukumnya wajib ditunaikan.

Selanjutnya, orang Indonesia terkenal sering bekerja tanpa perencanaan yang matang dan detil. Dari sisi bahasa saja, kita tidak memiliki kosakata yang maknanya seperti ‘run down‘ atau ‘run through’. “Udah, gampang. Nanti juga berjalan sendiri” adalah kalimat yang terlalu sering kita dengar jika kita meminta kejelasan tentang jalannya sebuah acara. Sebagian orang Indonesia masih bisa bangga ketika harus berjalan tanpa arah pasti dan mengalir tak karuan seperti air bah. “Seperti air aja lah, mas” menjadi mantra mitologis yang mampu menghipnotis kita untuk menerimanya sebagai ideologi. Namun, bagi para profesional asing, hal ini sangat tidak masuk akal.

Baca:   PNS dipecat Setelah Menonton Film Blue Selama 39 Jam di Kantor

Kempat, orang Indonesia dikenal jenius dalam membuat pemakluman. “Indonesians are to much excuse than reason,” keluh beberapa orang asing yang sangat sering dijumpai. “Biasalah orang Indonesia, masih sibuk, macet banget, ada urusan keluarga” adalah contoh frase klise yang dipaksakan supaya orang lain memaklumi jika ada sesuatu ketidakberesan dalam janji atau pekerjaan.

Terakhir, orang Indonesia telanjur tenar dengan kurangnya apresiasi terhadap kinerja orang lain. Jika pekerjaan baik, lupakan saja bonus dan terima kasih. Namun, jika pekerjaan tidak berhasil, siap-siaplah habis-habisan didamprat. Pelit penghargaan dan obral keluhan tak hanya terjadi di dunia profesional, tetapi menyebar ke semua sektor termasuk pendidikan. Lima kelemahan di atas tak banyak disadari sampai, biasanya, kita terlibat pekerjaan secara langsung dengan orang asing. Sebabnya, di sekolah/kampus pun, prilaku buruk di atas belum menjadi perhatian serius untuk ditumpas. Alih-alih membahas, pengajarnya sendiri justru sering  menjadi pelaku utama.