5 Kutipan Surat RA Kartini Yang Bikin Dunia Tercengang

Kartini

Kumpulan surat R.A Kartini kepada sahabat penanya bikin heboh Hindia Belanda dan juga Negeri Belanda setelah diterbitkan. Padahal, RA Kartini yang saat ini hanya seorang perempuan Jawa adalah wanita yang tidak pernah keluar dari Jepara. Surat Kartini saat itu sebagian besar berisi pemberontakan terhadap tradisi Jawa yang saat itu dianggapnya justru membatasi perempuan untuk berkontribusi terhadap lingkungan sekitar.

Berkat akses bacaan dan media yang didapatnya, Kartini memiliki pemikiran dan pengetahuan yang luas saat dibagikan kepada teman surat menyuratnya. Bukan semata wawasan, melainkan kegelisahan Kartini-lah yang paling mendominasi isi surat menyuratnya atas fenomena lingkungan sekitarnya yang amat mengungkung. Surat-surat Kartini diseleksi dan diterbitkan dengan judul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Direktur di Departemen Pendidikan, Agama dan Industri Hindia Belanda yang juga menjadi salah satu sahabat pena Kartini, Jacques Henrij Abendanon, pada 1911.

Baca:   Sungguh Hancur Hati Pria Ini, Calon Istrinya Justru dihamili dan dinikahi Oleh Sepupunya Sendiri

Abendanon dan istrinya, Rosa Manuela Mandri, bertemu dengan Kartini pada 1900. Abendanon merupakan tokoh Politik Etis yang ketika itu sedang marak di Hindia Belanda, yakni menganjurkan kepada pribumi untuk meraih pendidikan setara kaum Belanda. Abendanon saling berkirim surat dengan Kartini hingga Kartini wafat pada 1904. Laporan Majalah Tempo pada April 2013 mencatat buku laris dan dicetak berkali-kali. Bahkan koran-koran Hindia Belanda dan Negara Belanda memuat iklan yang menawarkan buku itu seharga 4,75 gulden.

Dilansir Pojoksatu.id, berikut 5 kutipan surat pemikiran Kartini dari surat-surat dalam Habis Gelap Terbitlah Terang:

“Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia dan merugikan diriku saja,”

-Surat kepada Stella Zeehandelaar, 18 Agustus 1899

Baca:   Gaya Hidup Supermewah Mantan Istri Konglomerat asal Indonesia

“Hampir semua perempuan yang kutahu di sini mengutuk hak-hak yang dimiliki laki-laki (poligami). Tapi harapan saja pasti sia-sia: sesuatu itu harus dilakukan. Mari, wahai perempuan, gadis-gadis muda, bangkitlah, mari bergandeng tangan dan bekerja bersama untuk mengubah keadaan yang tak tertahankan ini,”

-Surat kepada Stella Zeehandelaar, 23 Agustus 1900

“Aku akan mengajari anak-anakku baik laki-laki maupun perempuan untuk saling menghormati sebagai sesama dan membesarkan mereka dengan perlakuan sama, sesuai dengan bakat mereka masing-masing,”

-Surat kepada Stella Zeehandelaar, 233 Agustus 1990

“Kami senang sekali bersahabat dengan berbagai bangsa. Hanya dengan Cina kami tidak boleh berhubungan, itu kehendak ayah dan saya sedih sekali,”

-Surat kepada J.H.Abendanon, 14 Desember 1902

“Kebangsaan menanggung kewajiban,”

-Surat kepada Stella Zeehandelaar, 6 November 1899