Bahaya, Jangan Dulu Beli Android Selain Nexus dan Samsung?

samsung

Peringatan bagi Anda yang ingin membeli smartphone Android baru agar hati-hati. Seorang ahli keamanan software ternama memberikan saran bagi orang-orang yang ingin membeli smartphone berbasis Android. Demi keamanan, ia menyarankan untuk saat ini hanya membeli perangkat Nexus atau keluaran terbaru dari Samsung saja. Apa alasannya?

Ahli yang dimaksud bernama Gal Beniamini dari sebuah perusahaan bernama Duo Labs. Ia merupakan pakar keamanan dan anggota dari Product Security Hall of Fame Qualcomm. Beberapa waktu lalu, sebagaimana dikutip dari KompasTekno, Sabtu (9/7/2016), Beniamini memperlihatkan sebuah celah keamanan yang sangat serius di Android.

Baca:   Sejak hari ini, beli kartu perdana wajib serahkan KTP

Celah keamanan tersebut, dikatakannya, terdapat di semua perangkat berbasis Android yang belum mendapat “tambalan” (patch) keamanan untuk bulan Mei lalu. Meski begitu, tidak diketahui celah keamanan seperti apa yang diperlihatkan oleh Beniamini. Saat ini, diketahui ada sekitar 57 persen perangkat yang belum menerima update patch celah keamanan tersebut. Itu artinya, lebih dari setengah produk smartphone Android di seluruh dunia masih terancam bahaya tersebut.

Baca:   Rumor Galaxy A8, Smartphone Paling Tipis Samsung

Lebih lanjut, Beniamini mengungkapkan, hanya perangkat Nexus dan smartphone Samsung Galaxy terbaru yang meningkatkan keamanan sistemnya sejak pengujian yang sama pada Januari lalu. Oleh karena itu, sang peneliti menyarankan untuk tidak membeli smartphone di luar kedua brand tersebut.

“Kami menemukan bahwa perangkat Android yang direkomendasikan adalah Nexus dan, sekarang, perangkat Samsung, karena mereka tetap merilis update keamanan dengan cepat,” ujar peneliti tersebut. Android, sistem operasi sejuta umat, memang memiliki reputasi yang kurang baik untuk masalah keamanan. Pasalnya, banyak celah keamanan ditemukan dan membuatnya rawan diserang.

Baca:   5 Hal Ini Yang Sebabakan Kuota Internet Cepat Habis

Google sendiri sempat mengklaim bahwa jumlah serangan di sistem operasi bikinannya sudah tidak separah dulu.

loading...