Begini Petuah dari Abad ke-19 Soal Hubungan Seksual

book of nature

Bagi beberapa pasangan suami dan istri pada masa kini, ada banyak sumber informasi yang mendatangkan inspirasi tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu hubungan intim.

Ada begitu banyak saran yang bisa dipertimbangkan. Meski, cukup banyak juga nasihat asal-asalan yang beredar. Apa pun, setidaknya pengetahuan kita tentang seks saat ini telah lebih baik dibandingkan dengan pengetahuan nenek moyang kita pada tahun 1800-an.

Dikutip dari liputan6.com pada Jumat (12/8/2016), Dan Piepenbring mencoba menelusuri sebuah buku 64 halaman yang diterbitkan pada 1861. Pada hakikatnya, buku ini merupakan kumpulan nasihat-nasihat tentang seks di masa itu. Piepenbring mencoba membeberkan beberapa kutipan menarik dari buku karya pengajar fisiologi bernama James Ashton tersebut.

Baca:   Wow! Sudah 50 tahun nenek ini tetap cantik mempesona, ini rahasianya...

Salah satu contohnya, dalam buku tersebut dituliskan bahwa orang yang berkecenderungan (predisposisi) mengidap penyakit tertentu dilarang melakukan hubungan seks sebelum makan atau jangan buru-buru melakukannya setelah makan.

Kenapa? Menurut buku tersebut, dampak buruk hubungan seks pada lambung diduga dapat memperlemah pencernaan, terutama bagi kaum pria. Banyak pria yang bermuram durja dapat melihat kaitan ketidakbahagiaannya dengan hubungan seksual yang ceroboh.

Buku tersebut dengan ringkas membahas mulai dari “Ketertarikan Bersama Antara Dua Jenis Kelamin”, dilanjutkan dengan “Saat dan Cara Menghamili”, dan “Ketika Hubungan Seks Tidak Bisa Terjadi”. Pikiran yang melamun juga dianggap berbahaya karena alasan seseorang melakukan hubungan seks adalah untuk melakukan reproduksi.

Baca:   5 Kisah orang yang kehidupannya "gila irit"

Nah, begini alasannya menurut pandangan abad ke-19. Ketika seorang pria sedang melakukan hubungan seks dan pikirannya berkelana ke mana-mana, maka produknya akan lemah. Dengan demikian, jika istrinya hamil, maka keturunannya nanti akan “inferior”.

Fakta ini terlihat pada keturunan para jenius hebat yang diduga sedang berpikir tentang hal lain ketika sedang melakukan seks untuk mendapatkan anak. Karena alasan itu, keturunan mereka seringkali jauh di bawah kecerdasan orangtuanya.

Namun, Piepenbring menuliskan, “Ternyata pendidikan seks berabad lalu bahkan lebih klinis, mengajari, dan lemah. Semua itu hanya cocok kalau orang malah berniat mengurangi kenikmatan seks.”