Bripka Seladi Yang Pernah Tenar Itu, Kini Dirundung Masalah

Bripda Seladi

Beberapa waktu lalu nama Bripka Seladi menjadi perbincangan publik. Hal itu berkat kegigihannya bertahan menghidupi keluarganya dari menjadi pemulung sampah plastik dan juga barang-barang bekas untuk kemudian dijual kepada pengepul sampah. Sudah sejak tahun 2006 Seladi menjadi pemulung sampah, namun sejak 2008 sudah tidak berkeliling mencari sampah. Ia cukup memisahkan sampah di sebuah rumah yang dipinjami oleh temannya. Sampah itu cukup diambil di satu titik, kemudian dipilahnya.

“Ini (memulung) saya lakukan mulai pukul 16.00 Wib, selesai pulang kantor, sampai sekitar pukul 18.00 Wib atau 19.00 Wib,” katanya, dikutip dari Merdeka.com, Minggu (25/6/2016). Dari pekerjaannya itu, Seladi mengaku memperoleh sekitar Rp 35.000 sampai Rp 50.000 per hari, tergantung tingkat lamanya dan jenis sampah yang diperoleh. Sampah yang sudah dikumpulkan akan disetorkan pada seorang tengkulak seminggu sekali.

Baca:   Cerita PNS Selingkuh dengan Brondong Mengaku Belum Puas Sudah digerebek

Sekali setor biasanya sampai 1,5 kwintal dengan nilai uang yang tidak tentu, sekitar Rp 600.000. Hasil itu dibagi bersama teman dan anak kedua, yang rutin membantu. Jumlah itu katanya sudah sangat lumayan, dibanding saat awal memulung. Seladi pun berkisah tentang perjalanan hidup yang mengalami situasi sulit hingga terlilit utang. Gaji yang diterima Seladi setiap bulan sudah cukup besar. Namun karena sebuah kesalahan membuatnya merugi.

“Sekarang gaji polisi Rp 5,5 juta, tapi dipotong-potong karena utang banyak. Gajian selalu dipotong untuk bayar koperasi, sampai pernah minus Rp 36.000,” katanya tersenyum. Namun, kini Bripka Seladi tengah diselimuti kegundahan. Pasalnya, gudang yang selama ini ia gunakan sebagai tempat menyimpan hasil memulungnya bakal diambil alih oleh pemiliknya. Gudang yang ia tempati dua tahun terakhir, di Jalan DR Wahidin 40 Kota Malang akan dibangun oleh pemiliknya. Sementara sampah yang harus dipilah setiap hari terus berdatangan.

Baca:   Ini Alasan Polisi 'Sembunyikan' Amel Alvi dari Publik

“Belum ada tempat. Kalau titip, titip siapa, wong ini sampah,” kata Seladi tersenyum di gudangnya di Jalan DR Wahidin 40 Kota Malang, Jumat (24/6/2016). Sementara sampah-sampah yang menggunung itu akan diangkut ke rumah adiknya di Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Keluarga terdekatnya justru akan membantu memilah barang-barang tersebut.

Meski demikian, Seladi mengaku akan terus memulung untuk kelanjutan hidupnya. Setahun lagi, tugasnya sebagai polisi akan purna. Sampah menjadi harapannya, jika nanti sudah pensiun. Rumah yang selama ini dijadikan gudang diminta oleh pemiliknya. Selama ini, pemiliknya menyerahkan rumah itu kepada keponakannya yang bekerja di Pemkot Malang. Seladi menempati rumah tersebut sejak 2014. Lokasinya sekitar 200 meter dari tempatnya bekerja di Bagian SIM Satlantas Polresta Malang.

Baca:   "Gantung Margriet, Hukum Mati Margriet dan Pengacaranya"

“Saya tidak akan berhenti jadi pemulung, teman-teman dengan yang selama ini sudah saya kerjakan. Apalagi semua orang kenal saya sebagai polisi pemulung,” tandasnya.

loading...