Cara Ahok Mencegah Kekerasan Pada Anak di Jakarta

Ahok keluar dari Gedung KPK usai diperiksa soal RS Sumber Waras (Foto: Detik)

Ahok keluar dari Gedung KPK usai diperiksa soal RS Sumber Waras (Foto: Detik)

Untuk mencegah terjadinya kasus pemerkosaan terhadap anak, Gubernur DKI Jakarta Ahok mengingatkan warga Jakarta untuk saling perhatian. Saling perhatian antara warga yang satu dengan yang lainnya dapat mencegah terjadinya kekerasan hingga pemerkosaan pada anak. Karena itu, Ahok mengimbau warga Ibu Kota untuk saling kenal satu sama lain dan aktif melaporkan kejadian mencurigakan di aplikasi Qlue agar kejadian seperti dialami Yuyun, gadis 14 tahun di Bengkulu yang diperkosa 14 orang, tidak terjadi di Jakarta.

Baca:   5 Tempat Lokalisasi Yang Mengaku Siap Tampung PSK Asal Gang Dolly

“Saya ingatkan, masyarakat Jakarta itu harus saling kenal. Kenapa? Karena kita tahu peran masyarakat sangat dibutuhkan. Kalau ada orang mencurigakan laporkan ke Qlue biar bisa diatasi,” kata Ahok usai meresmikan Gereja GPIB Petra di Koja, Jakarta Utara, dikutip dari Liputan6.com, Senin (9/5/2016).

Selain perhatian warga terhadap lingkungan sekitar dapat ditampung di Qlue, warga juga dapat memanfaatkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) untuk saling mengenal dan mengetahui permasalahan tetangga sekitar. Menurut Ahok, keberadaan RPTRA dapat mencegah adanya kekerasan terhadap anak. “Kita sediakan banyak tempat seperti RPTRA, termasuk kawasan-kawasan padat itu memang kita benahi,” ujar dia.

Baca:   Ratusan Advokat siap membela Ahok di Pilgub DKI 2017

Aplikasi Qlue

Qlue yang berarti keluhan adalah sebuah aplikasi yang membuat perubahan besar di kota Jakarta setahun terakhir. Sampah berserakan dan coretan liar dibersihkan dalam hitungan jam, berkat laporan masyarakat lewat aplikasi yang terhubung dengan program Jakarta Smart City. Ada lebih dari 30 pelaporan yang bisa ditujukan bagi pemerintah dan pihak swasta.

Baca:   Wow! Elektabilitas Lulung Lampaui 3 Kali Lipat Dari Ahok

Dalam sehari laporan warga yang masuk melalui Qlue mencapai angka 3.000. Data yang telah diolah dikirimkan kepada Pemprov DKI Jakarta tiap 3 bulan sebagai bahan solusi permasalahan kota. Kini masyarakat tak hanya bisa mengeluh tapi juga melakukan aksi nyata lewat Qlue, aplikasi sosial media pelaporan pertama di Indonesia. Menyusul efektivitas penggunaan Qlue di Jakarta dan Bekasi. Kota-kota lain akan segera mempergunakan aplikasi buatan dalam negeri ini.

loading...