Cegah Perselisihan, Kunci Makam Yesus dipegang Keluarga Muslim

Wajeeh Nusseibeh

Salah satu gereja tertua di Kota Tua Yerusalem, “The Holy Sepulchre”, yang dipercaya orang Kristen sebagai tempat Yesus disalibkan, dimakamkan dan juga bangkit, ternyata selama ini yang jadi juru kuncinya adalah seorang keluarga muslim. Hal itu karena terdapat beberapa denominasi Kristen yang selama ini berbagi di tempat Gereja Makam Yesus itu.

Dan untuk mencegah terjadinya pertikaian, maka kunci dipengang oleh keluarga muslim dan hal itu sudah berlangsung turun temurun. Di gereja ini ada setidaknya enam golongan Kristen. Mereka adalah Ortodoks Yunani, Ortodoks Armenia, Katholik, Ortodoks Siria, Ortodoks Koptik Aleksandria-Mesir, dan Ortodoks Ethiopia Tewahedo. Katholik Roma, Yunani, dan Armenia -memegang 70 persen kepemilikan gereja.

Keenam golongan Kristen yang berbagi gereja ini sulit menyepakati banyak masalah praktis. Bahkan, untuk urusan pembersihan gereja pun mereka bertengkar. Ada kekuatiran bahwa jika salah satu dari mereka memegang kunci, maka pertikaian akan semakin memuncak. Maka, kekhawatiran itulah yang sangat dipercaya sebagai alasan sehingga kunci diserahkan kepada keluarga Muslim, demikian dikutip dari laman Kompas, Minggu (12/6/2016).

Baca:   Lawan Arus, Pengendara Motor Ini Cuek Bebek Seperti Tak Bersalah

Nusseibeh adalah keluarga Muslim Yerusalem kuno, yang turun-temurun memegang kunci Gereja Makam Suci ini. Dua jam setelah matahari terbenam, mereka mengunci gereja dan membukanya sebelum fajar, setiap hari. Ini tradisi sejak zaman nenek moyang mereka selama ratusan tahun. Keluarga Nusseibeh tinggal di luar Kota Tua. Wajeeh Nusseibeh adalah penjaga pintu saat ini. Konon, keluarganya telah melakukan tugas ini lebih dari 1.300 tahun.

Meskipun ada satu celah selama 88 tahun, ketika Tentara Salib Kristen memerintah Yerusalem pada abad ke-12. Kisah tentang ini pernah diabadikan dalam film berjudul: Im Haus Meines Vaters Sind Viele Wohnungen (Di Rumah Bapaku Ada Banyak Tempat). Para biarawan yang tinggal di dalam komplek gereja harus pulang tepat waktu. Jika tidak, mereka terpaksa bermalam di tempat lain.

Ritualnya, begitu pintu dari kayu tebal ditutup, seorang biarawan di dalam mendorong tangga lewat lubang yang sengaja dibangun, sehingga orang dari luar hanya bisa memanjat untuk mencapai kunci paling atas. Peziarah datang dari berbagai penjuru dunia. Banyak di antara mereka yang terharu saat menyentuh batu di pintu masuk, di mana tubuh Yesus dibaringkan, setelah diturunkan dari kayu salib.

Baca:   Sudah Setahun Lebih Nikah, Suami Kaget Istri Ternyata 'LadyBoy'

Setiap masa prosesi keagamaan, gereja ini dipadati peziarah. Ada masa di mana, biarawan dari gereja Armenia memulai prosesi di sekitar makam, sementara para biarawan Katholik berjarak tak jauh di depan mereka. Sungguh, ibarat kompetisi suara di telinga Tuhan. Ini adalah satu-satunya gereja di dunia di mana gereja timur dan barat memuji Tuhan, di bawah atap yang sama, pada saat bersamaan.

Terkadang, perbedaan pandangan berujung pada kekerasan, seperti pada perayaan Paskah Ortodoks tahun 1995. Kala itu polisi Israel baku hantam dengan pemuda Kristen yang ambil bagian dalam perayaan itu. Pada umumnya, konflik terjadi karena sengketa batas wilayah. Pihak yang satu cemas jika pihak yang lain mencoba melanggar batas wilayah yang bukan miliknya.