Cerita sopir taksi soal Pilkada DKI 2017 dari Ahok hingga Ahmad Dhani

ahok

Meskipun Pilkada DKI 2017 baru akan berlangsung setahun lagi, namun ‘ribut-ribut’ soal Pilkada tersebut turut dirsakan oleh Endi (62). Endi yang berprofesi sebagai sopir taksi tersebut berharap Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta kembali. Seperti yang diungkapkan Endi kepada Kompas.com, dikutip Sabtu (19/3/2016). Perbincangan Pilkada DKI dimulai ketika radio menyiarkan berita tentang Ahok, Kamis (17/3/2016). Saat itu, penyiar radio membacakan berita Ahok yang akan didukung oleh Partai Hanura.

“Aduh si Ahok mending (maju) independen dah, enggak ada beban. Kalau dicalonin partai, partai itu penyebar penyakit, ditekan terus sampai selesai jadi gubernur,” kata Endi menyayangkan dukungan parti atas Ahok. “Lihat aja tuh Non (wartawan), partai yang di DPR, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mau dikerdilkan terus. Yang kena sama KPK kan pejabat sama anggota DPR terus, rakyat enggak ada yang kena,” keluh Endi.

Selama mengantarkan Kompas.com ke tempat tujuan, Endi tak hentinya berbicara dam mencurahkan pemikirannya. Selain tak mempercayai anggota dewan yang ada di pusat, ia juga sudah tidak percaya dengan anggota DPRD DKI. Ketidakpercayaannya akibat usulan pembelian uninterruptible power supply (UPS) yang mencapai Rp 6 miliar tiap unitnya. “Gila kan? Masa harga UPS lebih mahal daripada harga bangun sekolah? Uang Tp 6 miliar mah bangun sekolah mewah,” papar Endi.

Baca:   Prabowo Pilih Sandiaga Uno Sebagai Lawan Ahok di Pilkada DKI 2017

“Saya pernah bawa penumpang orang PLN, dengerin radio begini. Dia bilang, ‘gila aja enggak ada UPS harganya Rp 6 miliar’. Orang PLN Non, yang ngomong sama saya,” kata Endi. Pria yang sudah sejak tahun 1960 menetap di Mangga Besar, Jakarta Pusat itu mengungkapkan langkah Ahok dengan menghilangkan anggaran UPS membuat beberapa anggota DPRD berang. Akibatnya, Ahok terus “disikut” selama menjabat.

“Apalagi Abraham Lunggana (Wakil Ketua DPRD DKI Lulung) tuh. Ntar dia mau nyalonin (gubernur) lagi, siapa yang mau pilih dia? Ahmad Dhani (musisi) juga mau nyalonin (gubernur) lagi, ngurus keluarga aja kagak rampung-rampung. He-he,” kata Endi sambil terus mengemudikan mobilnya. Puluhan tahun menetap di Jakarta, Endi mengaku merasakan banyak perubahan di masa pemerintahan Ahok. Seperti pelayanan publik yang tidak lagi dipungut uang, banjir yang mulai teratasi, serta kawasan kumuh di Sunter yang semrawut sudah lebih rapi.

“Dulu di Sunter jadi tempat ‘biawak’ nyarang kali. Fanatik ras suku pasti ada, tapi Ahok kalau enggak kerja, kenapa ratingnya naik terus?” kata Endi. “Foke (mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo) saja banjir masih dibilang genangan, kalau belum kena kumisnya dibilang belum banjir. Memang banjir enggak bisa dihindari, cuma banjir yang sekarang lebih cepat surut,” tambah Endi. Selain itu, ia merasakan pejabat DKI kini bekerja lebih baik. Sebab, kinerja pejabat selalu dikontrol. Sementara, kata dia, biasanya pejabat bekerja hanya karena tidak ingin kehilangan jabatan.

Baca:   Ahok: Kumpulkan Saja 3 Juta KTP Untuk Tolak Saya, Nggak Apa-Apa!

“Memang di satu sisi, kebijakan Ahok dianggap bejat, kayak PKL (pedagang kaki lima) digusurin. Tapi kalau mau Jakarta rapi, sampai kapan itu dibiarin? Pertama bangun tenda di trotoar, lama-lama triplek, lama-lama tembokan bangunan, taruh tempat tidur lagi,” kata Endi tertawa. Radio di taksinya masih terus menyala. Endi berhenti sejenak ketika akan membayar tol. Kemudian ia kembali berbicara lagi. Kali ini, terkait kekurangan yang dimiliki Ahok.”Kurangnya Ahok cuma sempral aja ngomongnya. Karena dia bisa dikatakan bukan politikus, tapi orang dagang. Lulung aja ditunjuk-tunjuk terus sama dia, karena dia enggak terikat partai mana-mana. Enak kan,” kata Endi.

Meski demikian, Endi tidak menyerahkan KTP DKI nya kepada “Teman Ahok” untuk mendukung pencalonan Ahok maju melalui jalur independen. Endi mengaku tidak tahu menahu perihal pengumpulan KTP itu. “Kalau mau, datang saja ke rumah saya. Nanti sekeluarga saya kasih KTP semua, tapi nanti balikin lagi ya KTP nya. Ha-ha-ha,” kata Endi seraya menghentikan laju kemudinya.