Ganti utang orang tua, gadis SD dipaksa kawin dengan duda 51 tahun

kawin-paksa

Kita sudah masuk pada zaman yang sudah serba modern, tapi praktek-praktek kawin pakasa seperti pada zaman Siti Nurbaya, masih saja tetap terjadi. Hal itu dialami oleh seorang murid SD di Bengkulu yang harus melupakan masa-masa kecilnya untuk bermain bersama teman-teman seusianya. Ia sudah harus menjadi ibu rumah tangga pada saat usianya baru 12 tahun dan menjadi istri dari seorang duda berumur 51 tahun.

Ia harus kawin paksa dengan duda berinisial MI itu, sebagai tebusan atas utang orang tuanya sebesar Rp 4,8 juta. Kedua pasangan beda generasi itu menikah siri di Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah beberapa waktu lalu, dilansir Pojoksatu.id. Kawin paksa itu membuat sebagian warga marah. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak karena kedua orang tua murid SD berusia 12 tahun itu tak mempersoalkannya.

Baca:   Miliki status Permanent Residence di Australia, Jessica bisa bebas?

Informasi yang dihimpun wartawan, nikah siri dilangsungkan di rumah orangtua murid SD. Orang tua tidak mengundang tamu, maupun tetangga. Hanya beberapa orang yang menyaksikan pernikahan siri tersebut. Murid SD dan duda 51 tahun dinikahkan oleh seorang ulama. Murid SD malang itu mengaku tak bisa menolak keinginan orang tuanya. Terlebih, duda 51 tahun itu merupakan teman dekat sang ayah yang selama ini sering menolong keluarganya.

Ayahnya, kata dia sudah sakit-sakitan, sementara sang ibu tidak bisa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itulah, dia hanya bisa pasrah ketika diminta orang tuanya untuk menikah dengan duda 51 tahun. Diceritakan, sang ayah sempat beberapa kali meminjam uang kepada MI hingga totalnya mencapai Rp 4,8 juta. Pinjaman tersebut tak bisa lagi dilunasi, sehingga keluarganya merasa bersalah dan merelakan bocah 12 tahun itu menikah dengan duda 51 tahun.

Baca:   Pesawat Trigana Air hilang diduga menabrak bukit

“Mau gimana lagi, saya hanya bisa pasrah. Terus terang saya masih ingin sekolah, tapi kondisinya tak memungkinkan lagi,” ujar murid SD tersebut, Selasa (12/1/2016). Meski menjalani kawin paksa, siswi SD itu meminta masyarakat untuk tidak menyalahkan dan menghujat keluarganya. Sebab, keluarganya sudah susah dan dia tidak ingin beban keluarga semakin bertambah dengan menerima hujatan dari orang lain.

Kawin paksa yang dilakoni murid SD itu akhirnya sampai juga ke telinga Wakil Bupati Bengkulu Tengah, Muhammad Sabri. Orang kedua di Bengkulu Tengah itu prihatin mendengar kabar tersebut. Semoga kejadian seperti ini tidak lagi terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Kita sudah masuk zaman modern dan sudah tidak zamannya lagi main kawin paksa.