Heboh, Bayi Dua Ibu Dengan Satu Ayah Lahir dengan Tiga DNA, Bagiamana Bisa?

bayi-istimewa

Pada tanggal 6 April 2016 lalu, seorang bayi lahir dengan dua ibu, satu ayah dan tiga DNA. Kelahiran bayi istimewa itu bahkan menjadi headline di beberapa media dunia dan juga jurnal sains. Bagaimana bisa terjadi? Bayi itu memiliki ibu kandung dan ibu yang mendonorkan sel telurnya. Perjalanan si bayi diungkap oleh jurnal Fertility and Sterility dan New Scientist Selasa (27/9/2016) lalu.

Kisahnya bermula dari keinginan pasangan asal Jordania untuk memiliki momongan. Si istri membawa gen yang bisa menyebabkan Leigh Syndrome (LS). Dua anaknya meninggal dunia karena LS tersebut. Satu meninggal saat usia 8 bulan dan satu lagi saat usia 6 tahun. Dia juga sudah empat kali keguguran, demikian dilansir dari pojoksatu.id, Kamis (29/9/2016).

Baca:   7 Fobia Makanan Paling Aneh di Dunia

Mereka berdua akhirnya menemui dokter John Zhang di New Hope Fertility Center, New York, Amerika Serikat (AS). Pasangan itu menyatakan keinginannya untuk memiliki bayi yang memiliki DNA mereka tapi sehat. Zhang akhirnya menawarkan teknik penukaran inti sel milik si istri dengan milik orang yang mau mendonorkan sel telurnya. Baru kemudian dibuahi dengan sel sperma dan ditanam di rahim.

Tehnik yang disebut dengan spindle nuclear transfer tersebut belum disetujui di AS sehingga Zhang dan pasangan itu pergi ke Meksiko untuk menjalankan terapi tersebut. Pada tahun 1990an rekayasa genetik hampir serupa dilakukan di AS, namun ternyata bayi-bayi yang dilahirkan mengalami cacat bawaan sehingga akhirnya dilarang. “Tidak ada aturan (larangan di Meksiko),” ujar Zhang.

Baca:   Aneh, Pria Ini Punya Hobi Beraki Setiap Mobil Yang Ia Temui

Dia bersikukuh telah membuat keputusan yang tepat sebab menyelamatkan kehidupan adalah hal yang layak dilakukan. Metode yang serupa sebenarnya juga dilakukan di Inggris. Bedanya di Inggris sel telur yang tidak sehat dan milik donor, sama-sama dibuahi dulu oleh sperma. Sebelum memasuki tahap awal sebagai embrio, inti sel dari keduanya diambil dan ditukar. Namun, pasangan tersebut menilai itu tidak sesuai dengan ajaran agama mereka sehingga memilih teknik milik Zhang.

Perempuan Jordania tersebut akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Mayoritas DNA di tubuhnya adalah milik ayah dan ibunya. Hanya 0,1 persen saja milik ibu pendonor sel telur. Tim dokter mengevaluasi kondisi si bayi lebih dulu selama lima bulan baru mengungkapkannya ke publik. Sebab, masih ada mutasi genetik di bagian mitokondria. Namun hanya kurang dari satu persen.

Baca:   Mengejutkan, Di Bokong Remaja 14 Tahun Ini Tumbuh Ekor Sepanjang 20 cm, Bagaimana Bisa Terjadi?

Biasanya penyakit baru muncul jika mutasinya minimal 18 persen. Sejauh ini, kondisi si bayi masih sehat. Rencananya Zhang dan timnya akan mempresentasikan kesuksesan tehnik pembuahan tersebut dalam pertemuan American Society for Reproductive Medicine di Salt Lake City bulan depan. “Semoga, mutasi itu terlalu rendah untuk bisa menyebabkan masalah,” ujar salah seorang pakar dari Lancaster University David Clancy. Banyak pakar yang memuji keberhasilan Zhang.

Namun banyak pula yang mengecam. Salah satunya karena Zhang dianggap memanipulasi aturan dengan melakukan prosedur tersebut di Meksiko.

loading...