Heboh, Curahan Hati Pengusaha Istrinya Nikah Diam-Diam dan Punya Anak 1

Nikah Diam-Diam

Sebuah video curahan hati seorang pria bernama Yanto (bukan nama asli) yang mengisahkan istrinya nikah diam-diam hingga punya anak, bikin heboh dunia maya. Saat tulisan ini dimuat, video tersebut sudah dilihat oleh 600.000 kali dengan komentar hampir 8000 orang. Dalam video tersebut, Yanto mengaku berasal dari Jawa Barat dan memiliki kios di Tanah Abang, Jakarta. Yanto menikah pada awal Maret 1995. Setela menikah, dia langsung pindah ke rumah baru. Namun, Yanto hanya pulang pada Jumat sampai Minggu. Sebab, dia harus mengurus usahanya di Tanah Abang pada hari Senin hingga Jumat.

Namun, karena Yanto jarang pulang ke rumah, istrinya selingkuh di belakang. Bahkan, istri Yanto menikah dengan pria yang dikenalnya lewat media sosial Facebook. Tak hanya itu, istri Yanto telah memiliki anak dari hubungan gelapnya dengan pria tersebut. Kisah nyata menyayat hati yang dialami Yanto dibuat dalam bentuk video. Namun, tidak ada suara dalam video tersebut. Yang ada hanya tulisan mengisahkan kehidupan Yanto menjalani biduk rumah tangga dengan sang istri.

Berikut ini kisah lengkap Yanto:

Sebut saja nama saya Yanto (nama samaran). Kisah ini saya alami lebih kurang lima tahun yang lalu. Namun rupanya rentang waktu tak mampu menyirnakan rasa sakit di hati saya. Dimana saya sangat merasa terhina sebagai seorang kepala rumah tangga. Dimana saya merasakan begitu terpuruk di jurang kehidupan paling dalam. Dimana aku merasa begitu tentram dan damai dalam rumah tangga kami. Kami menikah di awal maret 1995. Kami menikah atas dasar suka sama suka dan tidak ada unsur pemaksaan atau intimidasi dari pihak manapun.

Baca:   Suami Pakai Kondom Selama 2 Tahun Tapi Istri Hamil, Hal Ini Yang Terjadi Selanjutnya

Dan pertemuan kami pun sangat alami dan tidak ada sama sekali unsur rekayasa. Kami dipertemukan pada acara bakti sosial dan pengajian Ikatan Remaja Masjid. Kami pun berpacaran wajar dan tanpa neko-neko dibumbui dengan kenakalan remaja pada umumnya. Dan kami pun sepakat saling mengikat janji melalui tali pernikahan. Aku selalu berharap bahwa pernikahan akan aku alami hanya sekali selama aku hidup. Kami pun sangat komit dengan itu semua.

Seminggu dari resepsi pernikahan, kami langsung pindah ke rumah baru kami. Rumah itu sudah saya persiapkan jauh-jauh hari sebelum kami mengikrarkan janji setia kami di hadapan penghulu. Niatku adalah agar aku bisa mandiri. Dalam membangun mahligai rumah tangga kami, aku merasa begitu bahagia karena niatku mempersunting gadis pujaanku akhirnya kesampaian juga. Dan kebahagiaanku bertambah tatkala memasuki usia prkawinan 4 bulan, istriku mengandung.

Baca:   10 Aktor Paling Kaya di Dunia, Siapa Saja Mereka?

Aku terlahir dari keluarga pedagang. Ayah dan Ibuku memberikan sebuah kios sembako yang lumayan besar di bilangan Tanah Abang, Jakarta. Dan meskipun aku mempekerjakan beberapa orang karyawan, namun aku tak mau lepas begitu saja. Namun bukan berarti juga aku tak percaya atas kinerja mereka, tapi aku ingin lebih menguasai itu buat menopang kehidupan keluargaku yang baru seumur jagung. Aku ingin menghidupi keluarga dari hasil jerih payahku dan tak mau membebani ayah ibuku. Dan aku ingin menuai sukses seperti ayahku.

Di awal Februari 1996, anak kami lahir. Dia seorang bayi laki-laki yang ganteng. Wajahnya sangat mirip ibunya. Kebahagiaan kami tiada terhingga, dan kami pun mengadakan syukuran yang meriah menyambut kehadiran buah hati kami. Hal ini semakin membuatku semangat dalam mengurus usaha saya. Meskipun aku begitu disiplin dalam mengurus usaha kami, aku juga tak lantas melupakan kewajibanku sebagai kepala rumah tangga. Aku setiap Jum’at sore pulang ke kampung dan minggu sore aku kembali ke Jakarta.

Baca:   Satpol PP Ini Gerebek Rumah, Eh Malah Tangkap Istri Sendiri Sedang 'Digarap' Orang lain

Waktu terus berjalan dengan pasti. Aku sangat mencintai keluargaku. Bagiku keluarga adalah segalanya dan apapun yang mereka minta pasti aku memberikannya. Dan aku sangat bersyukur karena limpahan materi yang lebih dari cukup. Waktu itu istriku tengah mengandung anak kami yang kedua. Tentu kesempurnaan hidup yang telah aku raih, membuat aku sangat bersemangat dalam menjalankan kehidupan sebagai kepala rumah tangga.

Aku berencana menunaikan Ibadah Haji setelah putera kedua kami lahir dan moment yang kami nantikan akhirnya datang jua. Anak kedua kami lahir, bayi perempuan yang cantik. Kami tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah swt, yang telah menganugrahkan nikmat-Nya yang tak terhingga bagi keluarga kami. Aku pun semakin memantapkan diri untuk melaksanakan ibadah haji. Namun rupanya niatan kami kali ini, harus ditangguhkan lagi karena tanpa kami duga, ketika bayi perempuan kami menginjak usia 6 bulan, istriku kembali mengandung. Bersambung…

loading...