Humor Mukidi Yang Sedang Viral, Dijamin Bikin Terpingkal-Pingkal

humor-kocak

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Mukidi mungkin terdengar kampungan dan ndeso. Tapi tahukah Anda bahwa nama ini justru makin tenar belakangan ini, terutama di media sosial dan juga Whatsapp? Banyak cerita humor dialami Mukidi. Ada saja kelakuan pria ndeso satu ini. Tetapi semua itu hanyalah guyonan.

Humor tentang Mukidi ini tentu bikin pembacanya tertawa ngakak. Hingga akhirnya bermunculan cerita tentang kehidupan Mukidi dari kecil hingga dewasa. Semua tentu hanya cerita fiktif. Namun, bila dibayangkan apa dilakukan pria ini, pembacanya pasti tak bisa menahan tawanya. Berikut humor Mukidi dijamin bikin ngakak guling-guling:

1. Mukidi tanya dokter soal kondom
Di ruang operasi rumah sakit, seorangg dokter bedah melihat Mukidi yang akan dioperasi kelihatan gelisah. Untuk menenangkannya, Mukidi diajak bercanda.

Dokter : “Bapak tau cara membuat sarung tangan karet yang sedang saya pakai ini?”
Mukidi : “Tidak dok…”

Jawab Mukidi sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Dokter : “Begini Pak.. Karet mentah direbus sampai meleleh lalu pegawai pabrik rame2 mencelupkan tangan ke dalam cairan karet itu. Setelah itu tangan segera diangkat untuk diangin-anginkan. Tak lama kemudian jadilah sarung tangan seperti ini.”

Mukidi tersenyum mendengar penjelasan sang dokter. Beberapa saat kemudian Mukidi tertawa terpingkal-pingkal. Dokter heran dan bertanya.

Dokter: “Mengapa Anda tertawa seperti itu..?”
Mukidi : “Dengar cerita dokter tadi, saya lalu membayangkan bagaimana cara membuat kondom.”

Dokter: (bengong)

2. Mukidi nyari uang kembalian
Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Bu Markonah.

“Buk, rujak satu, berapa?” tanya Cak Mukidi.

“Sepoloh rebu..cak..,” kata Bu Markonah.

Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah bilang, “Cak… tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya,” kata Markonah sambil menunjuk belahan dada atas.

Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem di sana pikirnya. “Nggak ada..Bu.” kata Cak Mukidi.

Buk Markonah kasih instruksi, “Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri.”
Cak Mukdi: “Nggak ada…Buk.”

“Ya sudah,” kata Buk Markonah.

“Lah terus mana kembalian saya????” tanya Cak Mukidi bingung.

Buk Markonah dengan enteng berkata, “Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis.”

Baca:   Unik, Ubi menyerupai bokong wanita seksi

Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah

3. Mukidi naik Metromini
Mukidi yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta.

Dia ingin keliling Jakarta naik Metromini.

Diam-diam dia mengamati segala yang terjadi di dalam Metromini. Termasuk tingkah laku kernet dan penumpang.

Tak lama kemudian si kernet bilang. “Dirman.. Dirman.. Dirman..” (tanda bahwa bus telah sampai di Jalan Sudirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak, “kiri..!” Dan turunlah penumpang tersebut.

Selang berapa lama kernet teriak. “Kartini.. Kartini.. Kartini..” Seorang cewek muda kemudian nyeletuk. “kiri..!” lalu cewek tersebut pun turun.

Beberapa lama kernet itu teriak lagi. “Wahidin.. Wahidin.. Wahidin..” Adalagi cowok yang bilang, “kiri..!”

Tak selang lama si kernet teriak lagi. Gatot Subroto!! Gatot Subroto!!

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab, “kiri. kiri….!!” Maka turunlah si kumis itu.

Tinggallah seorang diri Mukidi di dalam bus. Dengan hati ngedumel, lama-lama jengkel juga dia. Lalu dicoleklah si kernet, dengan nada marah Mukidi bilang, “Kurang ajar sampeyan ya. Dari tadi rang-orang sampeyan panggil. Lahh,, nama saya ndak sampeyan nggil-panggil!! Kalau begini caranya. Kapan saya turun ?!!!”

Untung si kernet tanggap. Kernet bertanya. “Siapa nama bapak?”

“Namaku Mukidi”, jawab Mukidi.

Si kernet langsung teriak. “Mukidi.. Mukidi.. Mukidi.. !!!”

Mukidi pun lega dan berkata. “Nah, begitu!!”. “Kirri..!” Maka turunlah Mukidi di jalan tol.

Bagi Anda yang menemukan Mukidi harap menghubungi keluarganya di Sumenep.

4. Mukidi dan pasangan mesum
Mukidi punya kebiasaan jelek, yaitu suka ngintip orang yang sedang pacaran. Tempat favoritnya untuk mengintip adalah di atas pohon. Di mana di bawahnya sering digunakan untuk pacaran.

Seperti biasanya, malam itu Mukidi sudah stand by di atas pohon untuk mengintip. Dan benar saja tak berapa lama datang pasangan Kipot dan Kipit datang.

Karena dianggap sepi dan aman Kipot dan Kipit akhirnya indehoi. Mukidi benar-benar menikmatinya tontonannya.

Setelah indehoi, keduanya bercakap-cakap:

Kipit : Pot, aku takut hamil.

Kipot : Enggak mungkin hamil, kan baru sekali ini.

Kipit : Tapi kata temenku bisa pot, Bagaimana dong?

Kipot : Kalau bener hamil, ya kita serahkan saja sama yang di atas.

Tiba-tiba Mukidi turun dari pohon dan marah-marah: “ENAK AJA LU, GUA CUMA NONTON, LU MINTA GUA TANGGUNG JAWAB, GAK BISAA!!!!”

Baca:   Tahukah Kamu Bahwa Foto Selfie Sudah ada Sejak Tahun 1800-an?

5. Mukidi naik unta Arab
Mukidi lagi melancong ke Arab, seperti orang Indonesia yang lainnya. Dia juga ikut tour naik unta. Tapi unta di Arab tidak seperti unta di Indonesia, ketika Mukidi bilang, “duduk” dan unta langsung duduk.

Namun lain kejadiannya. Unta di Arab, walaupun Mukidi sudah bilang: “Duduk, sit.. sit, jongkok, diuk.”

Sang unta tetap berdiri, dan akibatnya Mukidi tidak bisa naik.

Pawang Unta (PU): “Bilang Assalamualaikum, baru unta duduk.”
Mukidi: “Asalamualaikum” langsung onta duduk, Mukidi naik, unta langsung berdiri lagi.
Mukidi: “Jalan.. jalan..” unta tetap diam. Dipukul pukul punggungnya, unta tetap tidak mau jalan.
PU :”Bilang Bismillah ”
Mukidi : “Bismillah”
Onta jalan, Mukidi senang jalan naik unta dengan Pawang Unta berjalan di sampingnya.

Tak lama kemudian Mukidi bertanya, “Pawang. Bagaimana cara nyuruh untanya lari ya?”
PU: “Bilang aja Alhamdulilah”
Mukidi : “Alhamdulilah.” Dan unta pun berlari.

Mukidi senang sekali. Saking senangnya Mukidi bilang lagi “Alhamdulilah.” Dan si unta berlari tambah kencang, dan si Pawang Unta makin ketinggalan.

Ketika Mukidi sudah jauh si Pawang Unta baru ingat, belum memberi tahu caranya onta berhenti. Dari jauh PU berteriak: “Kalo mau berhenti bilang Innalillahi..”

Karena sudah jauh Mukidi tidak mendengar. Dan si unta terus berlari dengan kencang. Sampai akhirnya di kejauhan Mukidi melihat di depan ada jurang yang sangat dalam. Mukidi ketakutan, dan mencoba menghentikan onta: “Stop, stop, stoooop, stooop, oop, oop..!!”

Unta tetap berlari, jurang sudah terpampang di depan mata. “Mati gue!” kata Mukidi. Tahu dia akan jatuh kejurang dan mati.

Dalam kepanikannya dia berteriak: “Innalillahi..!!” sambil memejamkan mata pasrah. Unta mendadak berhenti. Dan ketika Mukidi membuka mata. Dia melihat persis di tepi jurang. Saking senangnya tidak jadi mati, Mukidi berteriak: “Alhamdullilah!”

PLUNG!!! …..

6. Mukidi cita-cita jadi tentara
Bu Guru bertanya: “Anak-anak, siapa yang mau masuk surga?”

Serempak Anak-anak menjawab, “Sayaaaa..”

Mukidi yang duduk di belakang diam saja.

Bu Guru bertanya lagi: “Siapa yang mau masuk neraka..??”

Anak-anak: “Tidak mauuuu….!!!”

Mukidi tetap diam saja.

Bu guru mendekat: “Mukidi, kamu mau masuk surga atau neraka…?

Mukidi: “Tidak kedua-duanya Bu Guru…”

Bu Guru: “Kenapa???”

Mukidi: “Habis waktu ayah saya mau meninggal, beliau berpesan, ‘Mukidi… Apapun yang terjadi kamu harus masuk TENTARA…!!”

Baca:   Batu akik motif kulit ular piton jadi buruan kolekor

7. Mukidi berebut anak
Mukidi dan Ponikem baru saja bercerai dan sedang memperebutkan hak asuh anaknya.

Di ruang sidang pengadilan Ponikem dengan pedenya berkata: “Anak keluar dari perut saya, ya sudah pasti milikku”

Mukidi marah-marah dan menyanggah: “Kok lucu asal ngomong saja, memang kalau uang keluar dari ATM terus uangnya milik ATM? Jelas sudah pasti uangnya punya yang masukin kartu ATM dong.”

Jaksa pun terbengong-bengong sambil manggut-manggut dan semua yang hadir di ruang sidang pun tertawa dan memberi tepuk tangan pada Mukidi.

Mukidi kok dilawan!!!

8. Mukidi dan Gajah
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Bel sekolah berbunyi dan para siswa pun langsung berlarian memasuki kelasnya masing-masing, termasuk Mukidi.

Mukidi memang sangat dikenal oleh para guru di sekolah itu. Anaknya sih enggak bandel-bandel amat. Namun, dia sangat populer sebagai anak yang nyebelin banget.

Siang itu Mukidi duduk di paling depan, karena salah satu bangku teman yang ada di depan tidak masuk. Kebetulan pelajaran hari itu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Ini adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Mukidi.

Nah pada kesempatan itu, Ibu Guru membuat tebak-tebakan nama hewan. Berikut dialognya:

Guru: “Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G?”

Mukidi berdiri dan menjawab: “Gajah, Bu Guru!”

Guru: “Bagus, pertanyaan berikutnya. Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf D?”

Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri: “Dua gajah, Bu Guru…”

Grrrr…..semua murid tertawa.

Guru :”Mukidi, kamu berdiri di pojok sana!”

Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf M?

Semua murid diam.

Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang, “Mungkin Gajah…”

Guru: “Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu!”

Mukidi keluar dengan sedih. Bu Guru melanjutkan.

Guru: “Pertanyaan terakhir. Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf J?
semua diam.

Dari luar sayup-sayup terdengar suara Mukidi berteriak.

Mukidi : “Jangan-jangan Gajah, Bu…”

Saking kesalnya, Bu Guru menyuruh Mukidi pulang.

Guru : “Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P?”

Sekali lagi semua murid terdiam. Tiba-tiba ponsel Bu Guru berdering.

Guru: “Ya hallo…”

Mukidi: ‘Maaf Bu, saya Mukidi, jawabannya Pasti Gajah.”

loading...