Jadi Permanent Residence, Australia tuntut Jessica Kumala Wongso tidak dihukm mati

jessica-Kumala-Wongso

Jessica Kumala Wongso, tersangka dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin, tak akan dihukum mati. Hal itu menjadi persyaratan kesepakatan kerja sama Kepolisian Federal Australia atau AFP dengan Polda Metro Jaya untuk memecahkan kasus tersebut. Harian Australia, Sydney Morning Herald (SMH), memberitakan adanya kesepatan itu dalam laporan yang terbit hari Minggu (28/2/2016).

Harian itu melaporkan, Indonesia menjamin Jessica yang merupakan penduduk tetap (permanent resident) di Australia, tidak akan menghadapi hukuman mati terkait tuduhan bahwa dia telah membunuh temannya dengan kopi yang dicampur sianida. Menteri Kehakiman Australia, Michael Keenan, telah menyetujui AFP membantu untuk memecahkan kasus yang melibatkan Jessica (27 tahun) itu, yang diduga telah meracuni Mirna di sebuah kafe kelas atas di Jakarta Pusat, Januari lalu.

SHM melaporkan, kepolisian Indonesia telah meminta bantuan AFP karena kedua perempuan itu pernah belajar bersama di Billy Blue College of Design Sydney dan Swinburne University of Technology di Melbourne. Kapolda Metro Jaya Inpektur Jenderal Tito Karnavian dilaporkan telah terbang ke Australia pekan lalu. Di sana ia bertemu Keenan.

Baca:   Jessica Kumala Wongso divonis Hukuman Penjara 20 Tahun atas Tewasnya Mirna Salihin, Ini Reaksinya

Seorang juru bicara Keenan mengatakan kepada Fairfax Media bahwa menteri itu setuju Australia memberikan bantuan dalam penyelidikan dugaan pembunuhan itu sesuai dengan hukum Australia. “Pemerintah Indonesia telah memberikan jaminan kepada pemerintah Australia bahwa hukuman mati tidak akan dituntut atau diterapkan dalam dugaan pembunuhan itu,” katanya, dilansir dari Kompas, Selasa 1/3/2016.

Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti, mengatakan kepada Fairfax Media bahwa persetujuan itu terjadi setelah Kejaksaan Agung Indonesia menjamin tidak akan menuntut hukuman mati dalam kasus itu. “Harap dicatat bahwa hukuman mati merupakan hukuman maksimal, hal itu diterapkan untuk kejahatan luar biasa saja,” katanya. “Setelah jaminan itu, persetujuan diberikan dan sekarang kami sudah mulai bekerja sama dengan AFP.”

Berdasarkan panduan AFP terkait bantuan polisi internasional dalam situasi hukuman mati, persetujuan menteri diperlukan jika seseorang telah ditahan, ditangkap, didakwa atau dihukum karena tindak pidana yang punya risiko dihukuman mati.

Baca:   Pekerja Seks Online di Kalibata City Berumur Antara 14 Hingga 20 Tahun

AFP menghadapi kecaman karena menyerahkan informasi kepada pihak berwenang Indonesia terkait kasus geng nakorba yang disebut Bali Nine. Anggota geng itu kemudian ditangkap di Bali karena penyelundupan heroin tahun 2005. Koordinator Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, telah dieksekusi tahun lalu. Krishna Murti mengatakan, polisi sedang menyelidiki interaksi antara Jessica dan Mirna dan interaksi mereka dengan orang-orang lain.

Dia mengatakan Jessica, yang bekerja untuk NSW Ambulance sampai akhir tahun lalu, merupakan penduduk tetap Australia. “Karena itu kami mencegahnya berangkat kembali ke Australia (pada Januari). Akan sulit jika kami harus mengekstradisi dia kembali.”

Jessica dan Mirna bertemu di Olivier Cafe di Grand Indonesia Shopping Mall tanggal 6 Januari. Mirna meneguk es kopi Vietnam, yang dilaporkan telah dipesan Jessica untuk dia. Setelah meneguk kopi itu, Mirna menderita kejang-kejang dan mengeluarkan busa dari mulut. Mirna akhirnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.