Kenang Istri, Pria Ini Tanam Bunga Matahari Sepanjang 7 Km di sisi Jalan Raya

bunga-matahari
Don Jaquish, seorang pria yang ditinggal istrinya meninggal karena penyakit kanker menanam bunga favorit istrinya sepanjang 7 Km. Don menanam bunga dalam tanah berukuran lebar 18 meter sepanjang sisi kiri-kanan jalan raya 85 di negara bagian Wisconsin, AS. Don melakukan aksi itu sebagai upaya mengenang sang istri bernama Babbette yang meninggal pada November tahun lalu setelah melawan kanker selama 9 tahun.

“Dia sangat mencintai bunga. Namun, bunga matahari yang selalu menjadi favoritnya. Bunga itu sangat sesuai dengan kepribadiannya,” kata Don kepada ABC News, dikutip dari Kompas, Minggu 16 Agustus 2015. Upaya Don untuk mengenang sang istri ini tentunya tak mudah. Keinginannya menanam bunga matahari sepanjang 7 kilometer itu harus melintasi lima kebun milik para tetangganya.

Baca:   Hasil Studi, Gaya Berjalan dan Bentuk Bibir Pengaruhi Kemampuan Orgasme?

Don sangat beruntung, orang-orang yang memiliki tanah mengizinkannya untuk melakukan keinginannya dan juga mempersilahkan dia untuk membayar sewa tanah sesuai dengan harga yang pantas. Nantinya, biji bunga matahari ini akan dipanen dan dijual untuk mendukung para penderita kanker lainnya. Hal itulah yang diinginkan Babbette sebelum dia meninggal dunia.

Wajah Babbette nantinya akan muncul dalam bungkus biji bunga matahari yang akan diberi merek “Babbette’s Seeds of Hope” itu. “Dia (Babbette) adalah orang yang sangat sederhana dan saya tak yakin dia mau wajahnya dimunculkan dalam bungkus plastik itu. Namun dia adalah wanita yang sangat cantik,” ujar Don.

Baca:   7 Kesalahan Istri Yang Bisa Merusak Pernikahan di Awal

“Dia bahkan tak menyadari betapa cantik dirinya, luar dan dalam,” tambah Don.

Don melanjutkan, empat bulan setelah istrinya meninggal dunia, dia menemukan sebuah surat yang tersimpan dalam sebuah map. Saat dibuka surat itu hanya berisi sebuah pesan singkat untuk Don. “Berbahagialan dan nikmati hari-harimu. Rasakan saya di udara pagi, di saat kau bangun pagi dan membuat kopi. Saya selalu hadir di sana,” ujar Don mengenang isi surat mendiang istrinya itu.

loading...