Kisah Sukses Pengemis Jakarta, Miliki 7 Rumah dan Punya Harta Rp 5 Miliar

Harta-Melimpah

Banyak orang merantau ke Jakarta hanya modal nekat. Sama seperti DW yang merantau ke Jakarta tanpa modal apa-apa atas permintaan sang istri. Dimulai sejak tahun 2000, dia yang sebelumnya hanya ikut mertua, akhirnya memilih untuk mengadu nasib ke Jakarta untuk mencari kerja. Bermodal ijazah SMP, DW akhirnya datang ke Jakarta mencari kerja kesana kemari tanpa tempat tinggal yang jelas.

“Pertama numpang di rumah teman, lambat laun tinggal di bawah kolong jembatan tol Ancol,” kata DW. Semua itu dia lakukan agar dapat membelikan rumah istri dan anaknya. Sebab, DW sendiri trauma dan prihatin dengan keluarganya yang semuanya menyewa. Kehidupan keluarga istrinya juga merana. Tak memiliki pengalaman apa-apa, menuntut DW bekerja apa saja. Dia memilih menjadi pengemis setelah berkali-kali gagal kerja.

Mulai dari pembantu yang ternyata mendapatkan bos jahat, jadi pengamen. Pernah juga mencoba jadi pemulung. Namun, seringkali bangkrut dan dibohongi teman-temannya. Dan terakhir mencoba jadi pengemis. “Dasarnya saya memang males kerja. Makanya jadi pengemis,” kata bapak dua anak itu, dikutip dari Pojoksatu.id, Senin (30/5/2016). Mulai tahun 2003, DW meresmikan diri sebagai pengemis. Mengemisnya tidaklah pasti, kadang di kawasan Ancol, bahkan di luar daerah itu. Kadang ngemis dari rumah ke rumah, di perempatan jalan atau tempat rekreasi serta taman.

Baca:   Mata Uang Baru NKRI Ternyata Tidak Mengalami Redenominasi

“Dulu sih perdanya tidak seketat sekarang. Satpol punya juga jarang razia, jadi penghasilan cukup besar,” kata dia. Beberapa rumah sedang dipindah nama kepemilikannya atas nama dia, istri dan kedua anaknya. Jumat (27/5/2016) lalu, dia sedang berkoordinasi dengan pengacaranya atas pindah nama kepemilikan rumahnya di di Pengadilan Agama (PA), Klas 1 A Surabaya. Dia janjian di depan PA dan duduk di salah satu warung depan PA.

Baca:   Wow! Ikan Seharga Mobil Alphard di Pameran Investasi

“Sudah punya toko dua. Anak anak juga sudah mentas kuliahnya. Di Jakarta juga lelah dikejar-kejar satpol PP,” kata dia. Disinggung sudah berapa uang yang diterima dari hasil mengemis itu, DW mengatakan sebenarnya tidak sampai Rp 2 miliar jika ditotal tanah dan rumahnya. Namun, karena harga tanah dan rumah mahal, maka kini dia bisa memperkirakan bila hartanya sudah mencapai Rp 5 miliar. Karin menambahkan, selain sudah tidak nyaman ngemis di Jakarta, Karin juga ingin menikmati sisa masa hidupnya bersama DW.

“Wes tuwuk sorone (sudah lama sengsaranya, Red). Biyen iso (dulu bisa, Red) makan sehari ae wes (sudah, Red) cukup, sekarang lebih lebih,” kata Karin yang akan mantu anak pertamanya bulan Juli mendatang.