Kontes Batu Akik Nusantara, Pangdam Benny Indra Pujihastono Pamer Cincin ‘Red Borneo’

Benny-Indra-Pujihastono
Dalam rangka memperingati ari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Tentara Nasional Indonesia, Kodam VI Mulawarman mengadakan Pameran Batu Akik Nusantara bertempat di Terminal Kedatangan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Rabu (7/10/2015). Kurang lebih 40 stan meramaikan pameran tersebut dan semuanya memamerkan berbagai macam batu akik khas dari berbagai wilayah di Indonesia.

Panglima Kodam VI Mulawarwan Mayjen TNI Benny Indra Pujihastono tersenyum lebar saat menerima cincin batu akik khas Kalimantan “Red Borneo” dari panitia menandai pembukaan acara sebagai hadiah. “Semoga pas cincinnya di jari saya,” ujar Benny saat memasangkan sendiri cincin tersebut di depan para pengunjung yang hadir. Dengan bangga Benny mengangkat tangan dan memamerkan Red Borneo tersebut kepada para wartawan.

“Lewat batu akik kita ingin mengenalkan potensi daerah Kalimantan, khususnya Kaltim kepada masyarakat luas sehingga lebih dikenal dan dapat bersaing dengan daerah lain,” katanya, dikutip dari Tribunnews.com. Benny mengatakan, pameran dan kontes akik nasional yang digelar TNI ini merupakan salah satu dukungan TNI meningkatkan ekonomi kerakyatan. “Kegiatan ini juga sebagai simbol bahwa TNI mendukung penuh ekonomi kerakyatan yang salah satu contohnya pameran akik ini,” ucapnya.

Di arena pameran akik tersebut, panitia menyiapkan 40 stan pameran ukuran 1,5 meter per stan. Harga stan selama 11 hari panitia mematok harga Rp 2,5 juta. “Jika tempatnya seperti ini, Rp 2,5 juta tak masalah. Keuntungannya pasti. Kemarin malah di Dome, lebih mahal, empat hari saya sewa Rp 2,5 juta. Sampai hari ketiga, saya sudah kembali modal untuk uang sewa stan,” ucap Rahman, pedagang akik.

Baca:   Ilmuwan Asal Inggris Temukan Jamban Berumur 500 Tahun di Jerusalem

Adanya tren oleh-oleh batu akik juga menjadi salah satu harapan pedagang akik dalam meningkatkan omzet. “Sekarang oleh-oleh bukan hanya soal makanan. Batu akik pun bisa menjadi oleh-oleh. Malah tadi ada bule (orang asing) yang menyempatkan membeli batu akik. Inilah mengapa pameran di bandara ini menjanjikan bagi kami,” ujar Rahmani Ayu, pedagang akik lainnya.

Lebih lanjut, Nur Ilham, pedagang lainnya mengakui saat ini kegilaan orang terhadap batu akik sudah mulai menurun. Dampaknya, penjualan ikut menurun. Bukan hanya disebabkan oleh menjamurnya penjualan akik, namun juga karena daya beli masyarakat mulai berkurang. “Dulu saat masih booming, sebuah akik berharga puluhan juta masih dengan mudah terjual. Saat ini, paling yang membeli akik hanya berkisar ratusan ribu. Ini yang membuat kadang kami malas ikut pameran jika massanya sedikit,” katanya.

Baca:   Wow! Sudah 16 Tahun Wanita Ini Bekerja Rasakan Produk Alat Bantu Seks, Kamu Tertarik Mengikuti Jejaknya?

Ketua Panita Penyelenggara Mulyo Sanyoto juga mengakui adanya penurunan omzet akik tersebut. “Penurunannya sekitar 30 persen. Ini memang diakibatnya melemahnya ekonomi yang menyebabkan daya beli mayarakat kurang,” ujarnya. Untuk mengatasi hal tersebut, dirinya bersama kawan-kawan pendagang akik mencetuskan beberapa kegiatan agar pedagang akik tak loyo dan akhirnya tutup buku.

“Kami juga membentuk wadah pedagang akik yang kami beri nama Gemstone Borneo Balikpapan. Tujuannya menyejahterakan anggota. Bagaimana caranya? Tentu kami tak memberi uang kepada setiap anggota, tetapi dengan cara mengadakan pameran setiap bulannya di beberapa tempat. Biasanya kami lakukan setiap tanggal muda. Jadi teman-teman yang bergabung, bisa ikut dalam setiap pameran yang kami adakan. Jadi bisa dibilang lebih baik berjualan bersama-sama, daripada hanya menunggu di toko saja,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga kerap mengirimkan proposal-proposal setiap kali mengadakan acara. Hasil dari proposal digunakan sebagai dana untuk menyewa tempat. “Seperti di event ini, kami dapat bantuan Rp 7 juta dari Bank Indonesia dan adapula beberapa sponsor lain. Intinya, pameran ini adalah salah satu respon kami akan sulitnya ekonomi di masa krisis saat ini,” katanya.