LIPI: Cacing Bermunculan di Bantul Bukan Pertanda Gempa

cacing-tanah

Warga Bantul, Yogyakarta dibuat resah oleh keluarnya cacing dari dalam tanah dengan kondisi lemas. Banyak yang menduga bahwa keluarnya cacing-cacing itu sebagai tanda akan terjadinya gempa bumi. Sebelumnya, pada tahun 2006 Yogyakarta pernah diguncang gempa dengan skala 5,9 richter. Namun pakar gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja punya pendapat lain.

“Kemungkinannya kecil kalau (alasan cacing-cacing ke permukaan tanah) karena tektonik,” kata Danny dikutip dari Liputan6.com, Kamis 4 Juni 2015.

Baca:   Ahmad Dhani: Saya sama Ahok memang jauh banget, ya?

Dia mengatakan, jikapun ada gempa, kemungkinan itu karena aktivitas tektonik yang berasal dari lepas pantai. Meskipun lokasi tersebut, menurut dia, berada jauh dari lepas pantai. Sementara, kata Danny, energi untuk bisa menimbulkan gempa besar di lokasi itu telah terpakai pada 2006. Dan butuh waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan energi baru sebelum bisa menghasilkan gempa. Baca juga [Akibat Gempa Chile, 115 Lokasi di Indonesia Berpotensi Tsunami]

Dia menduga, ada faktor lain yang menyebabkan cacing-cacing tersebut gelisah dan keluar hingga ke permukaan tanah. “Kemungkinan besar karena ada perubahan iklim, perubahan environment (lingkungan),” ucap dia. Meskipun begitu, dia tak menampik, ada kemungkinan gejala tektonik di suatu tempat bisa saja terbaca lewat perilaku hewan-hewan di sekitarnya. Seperti cacing ini. Perubahan di alam, kata dia, dapat membuat hewan-hewan merasa gelisah dan tak nyaman.

Baca:   Adhyaksa: Kalau PDI-P dukung Ahok, enggak usah ada yang nyalon lagi deh!

“Insting makhluk hidup bisa merasakan perubahan di alam, seperti waktu gempa di Padang (Sumatera Barat). Sejak sebelum gempa kok tiba-tiba hewan-hewan besar yang nggak keluar, tiba-tiba keluar,” ujar dia. Namun, menurut Danny, hal itu tak selalu terjadi sehingga tak bisa dijadikan indikator atau tolak ukur pertanda gempa. Butuh alat untuk memastikan hal tersebut. “Enggak selalu terjadi, waktu (gempa) Aceh nggak ada, waktu gempa Nias nggak ada, Mentawai nggak ada,” tutur dia.

Baca:   Mantan staf pribadi Ali Sadikin sebut Ahok cocok pimpin Jakarta

“Belum tervalidasi. Kalau ada satu metode yang nggak tentu, nggak bisa diulang lagi dengan cara yang sama, nggak bisa diakui sebagai scientific method (metode ilmiah),” pungkas Danny.

loading...