Mayat diotopsi, Ibu Evan Christoper Bisa Jadi Tersangka?

Ratna-Dumiarti

Evan Christoper Situmorang ternyata meninggal dunia bukan karena MOS. Hal itu diketahui setelah polisi melakukan investigasi dan juga penyelidikan mendalam. Evan diketahui meninggal karena penyakit jantung, bukan karena mengikuti MOS di sekolahnya. Terkait hal ini, Kepala Polresta Bekasi Kota Komisaris Besar Daniel Bolly Tifaona menyatakan bahwa kasus ini akan dihentikan.

Menurutnya, polisi tidak akan membongkar makam Evan untuk kepentingan otopsi. Jika pun otopsi dilakukan, maka orang yang akan jadi tersangka adalah ibu Evan sendiri. “Kalau kami lakukan otopsi dan menemukan penyebab kematian Evan, berarti kami harus temukan tersangkanya. Kasus ini bukan kasus pembunuhan, tetapi (Pasal) 359, kelalaian yang mengakibatkan kematian atau meninggalnya seseorang. Siapa calon tersangkanya? Ibunya,” ujar Daniel, dikutip dari Kompas.com.

Daniel mengatakan, ibunda Evan, Ratna, membawa Evan untuk dipijat di tukang urut. Padahal, setelah dibawa ke puskesmas, Evan disebut menderita asam urat. Daniel mengatakan, kadar asam urat yang dimiliki Evan adalah 6,7 mg. “Asam uratnya 6,7 mg, ini cukup tinggi. Kalau asam urat itu memang enggak boleh dipijat, tetapi dikasih obat. Ya tetapi itulah tindakan yang diambil ibunya,” ujar Daniel.

Baca:   Keluarga Mirna Salihin Tepuk Tangan Saat Pegawai Kafe Olivie Bersaksi

Selain itu, Ratna sempat disarankan untuk melakukan rontgen terhadap bagian betis Evan ketika sang anak dibawa ke puskesmas seusai keram di sekolah. Akan tetapi, saran itu tidak dilakukan dengan alasan biaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa ibunda Evan telah melakukan kelalaian dalam menjaga anaknya, dan akhirnya menjadi calon tersangka kuat dalam kasus ini.

Daniel memilih untuk tidak melakukan otopsi pada jasad Evan dengan alasan tidak ingin menambah kedukaan di keluarga Evan. Daniel pun memutuskan untuk mengehentikan proses penyelidikan ini. “Saya punya pertimbangan lain. Kalau saya gali (kubur) jenazah, tersangkanya adalah ibunya. Kalau ibunya jadi tersangka, berarti saya menghukum ibunya dua kali. Pertama, dia sudah kehilangan Evan, lalu sekarang saya jadikan tersangka.”

Baca:   Ditetapkan sebagai tersangka, Ahli forensik tidak yakin Jesscia pembunuh Wayan Mirna

“Dengan segala konsekuensinya, menurut saya, kehilangan anak saja sudah berat, apalagi kalau dia jadi tersangka. Kami stop penyelidikannya sesuai permintaan keluarga. Saya tidak mau dua kali ibunya menjadi sedih,” ujar Daniel. Selain itu, sebelum fakta soal kematian Evan terungkap, keluarga Evan telah lebih dulu membuat surat pernyataan. Surat tersebut menyatakan bahwa keluarga Evan tidak akan menuntut pihak sekolah, dan tidak ingin anaknya diotopsi.

Evan Christoper merupakan siswa baru yang mengikuti kegiatan MOS di SMP Flora. Setelah kegiatan itu, kaki Evan biru-biru dan bengkak. Dua minggu setelahnya, Evan meninggal. Mengenai hal ini, pihak sekolah membantah bahwa kematian Evan akibat kegiatan MOS. Sebab, sekolah diliburkan setelah kegiatan MOS berakhir, atau dua minggu sebelum kematian Evan.