Mengerikan! Banyak Jasad TKI Yang dipulangkan ke Indonesia Penuh Jahitan, Pencurian Organ?

TKI

Diduga banyak jenasah tenaga kerja Indonesia (TKI), khususnya asal NTT saat dipulangkan ke kampung halamnnya, penuh dengan jahitan. Hal itu disampaikan oleh Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Jefry Unbanunaek. Ia menduga, jahitan tersebut lantaran organ tubuh bagian dalam para TKI tersebut diperjualbelikan oleh para mafia. Kasus yang menimpa Dolfina Abuk, TKW asal, Kecamata Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang jasadnya penuh jahitan, menurut dia, terjadi merata hampir di semua kabupaten di NTT.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang menjadi daerah pemilihannya, lanjut Jefry, pada akhir tahun 2015 lalu, seorang TKI bernama Ayub Besi, warga Desa Pika, Kecamatan Mollo Tengah juga mengalami hal yang sama yakni tubuhnya juga terdapat bekas jahitan. Waktu penjemputan jenasah di bandara hingga rumah duka, ia pun hadir di sana. “Ayub Besi itu saat dia meninggal, pihak agennya menyebutkan kalau dia sakit jantung, padahal riwayat sakitnya tidak pernah sakit jantung. Dia pergi kerja dua tahun di Malaysia dan waktu keluarga cek kondisi jasadnya ternyata penuh jahitan,” ucapnya, dikutip dari Kompas.com, Kamis (21/4/2016).

Baca:   Diperkosa 8 Orang, Janda Muda Ini Akan di Hukum Cambuk

“Ini banyak sekali TKI yang mengalami kasus serupa yakni jasad mereka penuh jahitan. Beberapa waktu lalu saya turun ke Desa Bonleu, Kecamatan Tobu, TTS , saya mendapat informasi dari warga setempat bahwa dalam rentang waktu antara tahun 2009 sampai 2015, terdapat sekitar Sembilan TKI yang bekerja di Malaysia meninggal dan setelah dipulangkan semua tubuh mereka bekas jahitan atau otopsi,” tambah dia. Menurut Jefry, pemerintah daerah harus proaktif dan serius dan jangan menganggap sepele masalah kemanusiaan ini. Pemerntah, kata dia, harus berjiwa besar mengevaluasi sejumlah program yang tidak menjawab persoalan di masyarakat.

Ia mengatakan, pihaknya sudah meminta kepada Pemerintah Provinsi NTT, supaya setiap ada kematian TKI harus jelas dan didampigi oleh tim untuk mengetahui penyebab meninggal kemudian riwayat penyakit TKI itu. “Para TKI ini adalah pahlawan devisa. Di saat mereka meninggal di negeri orang, harusnya mereka betul-betul diperlakukan selayaknya seorang pahlawan. Ini ada indikasi jual beli organ tubuh. Ini baunya kita bisa cium tapi kita tidak bisa pegang. Kita harap semua pihak serius dan benar benar bersama sama untuk mengatasi masalah kemanusiaan ini,” ucapnya.

Baca:   Izin Tinggal Habis, TKI Lebih Banyak Jadi PSK di Arab Saudi Karena Fulus

Jefry menilai, Pemerintah Daerah NTT tidak serius melihat kondisi para TKI mulai dari mereka berangkat hingga kembali. Pemerintah juga, kata dia, harus menciptakan lapangan kerja di daerah kita ini sehingga bisa meminimalisir keberangkatan para TKI ke Malaysia. Jefry juga mengapresiasi langkah maju yang telah dilakukan oleh Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes yang melapor ke polisi, menyusul meninggalnya Dolfina Abuk, seorang TKW asal TTU yang jasadnya penuh dengan jahitan.