Mengerikan! Fakta-Fakta Awal Mula Pasutri di Bekasi Palsukan Vaksin

Pasutri pembuat vaksi palus

Awal mula pasutri di Bekasi memulai bisnis vaksin palsu ternyata bukan hanya karena latar belakang ekonomi. Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustin melihat adanya peluang saat melihat banyak botol berserakan. Jadilah, pasutri tersebut melakukan perbuatan keji berawal dari botol berserakan tersebut. Keduanya tega melakukan bisnis pemalsuan vaksin bayi setelah melihat peluang bisnis dibalik botol yang berserakan.

Pasutri ini memanfaatkan peluang lantaran banyak rumah sakit yang sering mengalami kekurangan stok vaksin. Selain itu banyak botol bekas vaksin yang berserakan dan dikumpulkan oleh Rita. Hal inilah yang dimanfaatkan pasutri ini dengan membuat vaksin palsu, berdasar jaringan dan kepercayaan antar petugas medis ia kemudian memasarkan vaksin tersebut.

Harga vaksin yang murah menjadi daya tarik sehingga vaksin palsu buatannya laris manis. Seorang rekan Rita membeberkan kisahnya. Hidayat Taufiqurahman, sehari-harinya bekerja sebagai perawat di sebuah klinik di perusahaan produsen sepeda motor. Sebelumnya dia bertugas sebagai perawat di ruang bedah di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi. Istri Hidayat, Rita Agustina, awalnya juga bekerja di tempat yang sama dengan sang suami.

Rita dulu juga perawat di rumah sakit swasta di Bekasi itu. Setelah menikah, keduanya keluar dari rumah sakit tersebut. Hidayat pindah menjadi perawat di klinik produsen sepeda motor sedang sang istri memilih menjadi ibu rumah tangga. Sejumlah rekan Rita yang juga mantan perawat mengaku terkejut mengetahui bahwa Rita dan suami menjalani profesi sebagai pembuat vaksin palsu.

“Saya tidak menyangka dengan perbuatannya, karena selama ini tidak mengetahui pekerjaan sampingannya sebagai produsen dan distributor obat,” ujar S, rekan Rita di RSIA Hermina Bekasi Selatan, dikutip dari Tribunnews.com, Selasa (28/6/2016). Meski begitu, S mengaku cukup mengenal sosok Rita karena mereka berdua pernah tinggal bersama di sebuah indekos sebelum Rita menikah.

Baca:   Pasutri Produsen Vaksin Palsu di Bekasi Dikenal Santun dan Juga Religius

Setahu S, Rita memang sering kepergok mengumpulkan botol bekas vaksin yang sudah dipergunakan oleh rumah sakit. Pengumpulan botol ini tentunya tidak diketahui oleh pihak rumah sakit, karena bila mengacu prosedur harusnya botol bekas vaksin dimusnahkan. Rita mengungkapkan, botol-botol yang dikumpulkan Rita adalah botol bekas vaksin seperti hib, infanrix, engerix dan vaksin lainnya yang dibanderol dengan harga cukup mahal.

“Dua tahun saya kerja bersama di poliklinik anak, dia bilang hanya dikumpulkan saja. Kalau prosedurnya, seharusnya botol bekas dimusnahkan,” ungkapnya. Menurut S, setelah Rita keluar dari pekerjaannya, mereka berdua pernah bertemu di pusat perbelanjaan. Saat itu, Rita menceritakan bahwa hidupnya sudah sukses, sehingga mampu membeli rumah elit di Kemang Pratama Regency, Jalan Kumala II M29, RT 09/05, Rawalumbu, Kota Bekasi.

“Bahkan dia sudah beli mobil mewah keluaran terbaru,” tutur S. Rita merupakan almuni sebuah Sekolah Perawat Kebidanan (SPK) di Jakarta dan bekerja di RSIA Hermina sejak tahun 1998 dan berhenti kerja sekitar tahun 2009. Seperti dikutip dari Kompas.com Wakil Direktur Umum Rumah Sakit Hermina Bekasi Syarifuddin menduga pasangan suami-istri (pasutri) pembuat vaksin palsu, Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina, melakukan bisnisnya karena sang istri mengetahui sering terjadi kekosongan vaksin di sejumlah rumah sakit.

Baca:   Cewek Cantik Asal Bandung disiram Air Keras, Akibatnya Tubuh Mulusnya Jadi Seperti Ini

Rita diduga mengetahui tingginya kebutuhan vaksin karena dia pernah bekerja sebagai perawat di RS Hermina Bekasi sejak 1998-2007. “Ini kan peluangnya ada karena sering kekosongan vaksin kan. Dia tahu kan sering kurang ini, kurang ini, kesempatan,” ujar Syarifuddin di RS Hermina Bekasi, Senin (27/6/2016). Kekosongan vaksin dari distributor resmi maupun Dinas Kesehatan disebut masih sering terjadi hingga beberapa bulan belakangan ini.

“Beberapa bulan belakangan ini sempat ada vaksin kosong. Kalau pusat menyatakan kosong, saya bisa apa. Terakhir bulan Mei kemarin,” kata Wakil Direktur Medik, Dian Ekawati, dalam kesempatan yang sama. Manajemen RS Hermina Bekasi berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat menyediakan kebutuhan vaksin tersebut.
Ia meyakini praktik-praktik pembuatan vaksin palsu tidak akan terjadi jika kebutuhannya terpenuhi.

“Kalau dari regulasi pemerintah mungkin mendirikan pabrik atau institusi dalam rangka menyediakan vaksin ini lebih baik, saya rasa celah-celah ini kecil, tertutup,” ucap Syarifuddin. Peredaran vaksin palsu, kata Eka, dapat menyebabkan terjadinya endemis kejadian luar biasa (KLB). Anak-anak tidak akan mendapatkan kekebalan tubuhnya karena kemungkinan vaksin yang disuntikan palsu.

“Kasihan kan anak-anak yang harusnya mendapatkan kekebalan, enggak terbentuk kekebalannya. Ini juga bisa jadi endemis KLB, harusnya kita sudah bebas polio, karena vaksinnya palsu, polionya jadi banyak. Bebas campak, karena vaksinnya palsu jadi banyak campak di mana-mana,” tutur Eka.