Menurut Ahok, Risma tidak benar-benar bisa matikan prostitusi

ahok

Sebelumnya, Tri Rismaharini mengatakan tidak setuju dengan penggusuran secara paksa. Hal itu ia sampaikan berkaitan dengan rencana Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) menggusur warga Kalijodo secara paksa. Ia menyarankan Ahok untuk memindahkan warga Kalijodo dengan pendekatan diplomatis. Ia memberi contoh ketika dirinya berhasil memindahkan para PSK di Gang Dolly.

“Saya tidak sepakat penggusuran dilakukan dengan cara paksa,” kata Rimsa di Surabaya, Minggu 14 Februari 2016, dikutip Viva. Ia mengatakan bahwa saat itu ia lebih mengutamakan komunikasi. “Waktu saya memindahkan warga yang ada di Waru Gunung dulu, komunikasi lebih saya utamakan. Lalu mereka saya pindahkan ke rumah susun dan bersedia,” lanjut Risma.

Baca:   Bareskrim bidik Ahok dalam kasus korupsi UPS

Namun, Gubernur DKI, Ahok, memastikan tidak ada urusan antara penggusuran wilayah Kalijodo dengan praktik prostitusi yang melekat pada kawasan itu, yang telah berlangsung berpuluh-puluh tahun lalu. “Saya nggak mempersoalkan soal prostitusi. Nggak ada orang yang bisa menghabisi prostitusi,” ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, dilansir Rimanews.com, Senin (15/02/2016).

Bahkan, sambung Ahok, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun belum bisa dikatakan sukses menghabisi lokalisasi terkenal bernama Gang Dolly. “Kamu kira yang di Dolly semua sudah habis. Di kuburannya masih banyak di Surabaya, malah sebagian ke Tangerang,” terang Ahok. Gubernur pun mengaku paham betul bagaimana kondisi hingga saat ini tentang dunia malam sarat prostitusi di Jakarta. Dimana banyak lokalisasi berkedok hotel berbintang yang kerap digandrungi pria berkantong tebal.

Baca:   4 Fakta RS Sumber Waras berdasarkan dokumen ini

“Kamu kira di Mangga Besar di Jayakarta, di Ancol di semua kota gak ada prostitusi? Di karaoke-karaoke, di pijet-pijet emang nggak ada prostitusi? Itu tuh munafik aja. Makanya aku udah ngomong sampaikan berkali-kali, kalau saya ingin ada lokalisasi,” ungkap Ahok.