Miris, Beredar Video Seks Siswa SMA N 1 Poso di Kantin Sekolah

video seks anak SMA

Video seks siswi SMA kini kembali bikin heboh. Kali ini diduga dilakukan oleh siswa SMAN 1 Poso Sulawesi Tengah (Sulteng) yang melakukan adegan seks didekat kantin sekolah. Aksi memalukanh itu dilakukan usai melaksanakan ujian nasional (UN) pada 21 April 2016 lalu. Pemeran video seks tersebut merupakan siswa SMAN 1 Poso Pesisir Selatan. Pemeran pria berinisal NV, siswa kelas II SMAN 1 Poso. Sedangkan pemeran wanita berinisial PK, siswi kelas 3 di sekolah yang sama.

Video seks berdurasi 4 menit 58 detik tersebut disaksikan 3 siswa lain di dalam kantin. Pemeran video mesum tersebut diduga mabuk, sehingga berani melakukan hubungan intim layaknya suami istri di depan teman-teman sekolahnya. Video seks siswa SMA tersebut direkam seorang pelajar yang menyaksikan adegan tak senonoh tersebut. Video mesum diambil dengan menggunakan kamera ponsel. Video hot sepasang siswa SMA ini diambil di kantin yang tak jauh dari sekolah mereka. Aksi tersebut dilakukan saat kantin sudah sudah tutup.

Baca:   Ajaib, Sudah 3 kali dinyatakan meninggal, pria ini hidup kembali

Kepala SMA Negeri 1 Poso Pesisir Selatan, Yusran Kalape, mengaku sangat terpukul dengan beredarnya video mesum anak didiknya. Yusran menyebut, pemeran video mesum itu merupakan siswa pendahan dari sekolah lain. Yusran menduga, video mesum itu diambil ketika sudah tidak ada lagi mata pelajaran setelah usai mengikuti ujian nasional. Yusran mengatakan, kemungkinan para siswa melakukan hubungan intim setelah dipengaruhi minuman keras (miras).

Baca:   26 Kisah Tragis Berhubungan Badan Yang Berujung Maut, Terbaru PNS Dishub

“Dari pengakuan mereka, awalnya hanya duduk-duduk di tempat itu. Mereka duduk santai karena kebetulan yang perempuan ini sudah kelas 3. Kemudian, satu per satu saya tanya, ternyata mereka minum. Mereka bilang mabuk sehingga terjadilah hal tidak senonoh itu,” ujar Yusran, dikutip dari Pojoksatu.id, Kamis (12/5/2016). Menurut Yusran, kasus tersebut telah diselesaikan secara internal oleh pihak sekolah dengan memanggil para pelaku dan orangtua mereka.