Miris! Siswa SD tebus ijasah dengan menyerahkan tubuhnya ke kepala sekolah

ABG

Sungguh malang nasib siswi SD ini yang harus menyerahkan kehormatannya untuk menebus ijasahnya. Parahnya lagi, orang yang melakukan perbuatan bejat tersebut adalah kepala sekolahnya sendiri berinisial BS. Lebih para lagi, BS menikmati tubuh bocah SD tersebut hingga tiga kali dan kini siswi berinisial IS itu sedang hamil 8 bulan, demikian dilansir dari Pojoksatu.id, Senin 12/10/2015.

ABG asal Desa Lumban Suhisuhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut) itu mengatakan, pelecehan yang dilakukan BS terjadi pada Desember 2014. Kejadian tersebut berawal ketika dia dipanggil BS. Dia menawarinya ijazah SD yang belum diambil karena tidak punya uang. Tanpa curiga, IS memenuhi panggilan BS. IS lalu dibawa ke rumah BS yang ketika itu memang sedang sepi.

Baca:   Seperti Ini Kronologi Pembunuhan Sadis di Pulomas Jakarta Timur Yang Bikin Geger

Setelah tiba rumah BS, ia dibawa ke rumah kosong di sebelah rumah BS dan meminta jatah kepada IS. Sang kepala sekolah mengancam tidak akan memberikan ijazahnya jika tak melayani permintannya. IS yang diketahui memiliki keterbelakangan mental tak bisa menolak. Terlebih, dia butuh ijazah untuk mendaftar ke SMP. Akhirnya, IS pasrah dan merelakan kegadisannya direnggut sang kepala sekolah.

Setelah kejadian itu, rupanya sang kepala sekolah ketagihan dengan kemolekan tubuh IS hingga dia kembali meminta jatah hingga tiga kali. Lagi-lagi IS hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa. Perbuatan bejat itu dilakukan BS di tempat yang berbeda. Keluarga IS mangadukan kasus tersebut ke polisi. Namun, putra BS merupakan anggota polisi dan sempat mengancam mereka, hingga akhirnya kasus itu terkesan jalan di tempat.

Baca:   Diperkosa 4 Wanita, Pria 19 Tahun Ini Lapor Ke Polisi

Belakangan, BS mengejek keluarga IS karena kasusnya tidak diproses. Kapolres Samosir AKBP Eko Supriyanto membenarkan kasus tersebut. Namun, kapolres membantah jika penanganan perkara ini lambat karena putra BS merupakan anggota kepolisian. “Enggak begitu, memang korban melaporkan seorang mantan kepala sekolah. Cuma kita kesulitan karena dia ada keterbelakangan mental dan keterangannya berubah-ubah,” ujar Eko.