Pesta pernikahan berubah menjadi pesta kematian bagi 130 orang

foto-cincin-nikah

Pesta pernikahan seharusnya menjadi pesta yang meriah dan penuh kebahagiaan. Tapi pernikahan yang satu ini justru menjadi pesta kematian bagi kedua mempelai dan juga para tamu undangan yang hadir. Pesta pernikahan warga Yaman tiba-tiba saja mendapat serangan udara yang menewaskan 130 nyawa tamu undangan yang hadir pada saat itu.

Peristiwa tragis itu terjadi pada Senin (28/9/2015) waktu setempat. Rudal dilaporkan menghantam dua tenda di sebuah desa dekat pelabuhan Laut Merah Mocha, di mana pesta pernikahan dilangsungkan. Tempat pesta pernikahan itu diserang dengan rudal lantaran mempelai pria disebut-sebut terlibat dalam gerakan pemberontak Houthi. Sebagian besar korban tewas merupakan perempuan dan anak-anak.

Baca:   Unggah Video Mesum Dengan Pacar di Youtube, Mahasiswa Hukum Lupa Klik Private

BBC, Selasa (29/9/2015) melaporkan bahwa Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (UNHCR) mengatakan, 130 orang bahkan lebih dilaporkan telah meninggal. Sebuah sumber medis di sebuah rumah sakit di Maqbana tempat korban dibawa juga mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa jumlah korban tewas meningkat menjadi 131 jiwa.

“Peristiwa ini merupakan insiden tunggal paling mematikan sejak awal konflik,” ujar juru bicara UNHCR Rupert Colville, dikutip dari Pojoksatu.id. Rudal yang ditembakkan ke lokasi pesta pernikahan diduga dilakukan oleh koalisi pimpinan Arab Saudi. Koalisi ini gencar melakukan serangan ke wilayah yang dikuasai pemberontak selama selama enam bulan terakhir.

Baca:   Memalukan, gara-gara Uang Mas Kawin kurang, keluarga pengantin tauran

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi mengatakan, pihaknya tidak bertanggung jawab dalam serangan mematikan itu. Mereka mengklaim tidak pernah melakukan operasi udara selama tiga hari terakhir di Yaman. “Serangan ini adalah benar-benar berita palsu,” kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutif dari BBC, Selasa (29/9/2015).

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengutuk keras serangan yang merenggut 130 nyawa tersebut. Ia menekankan bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik Yaman. Konflik itu hanya membawa penderitaan dan kehancuran. Sekitar 5.000 orang, termasuk 2.355 warga sipil tewas dalam serangan udara dan pertempuran di darat sejak 26 Maret.