Politisi Gerindra Termakan Janji Terjun dari Puncak Monas…

habiburokhman

Pelajaran bagi siapapun agar tidak sembarangan dalam mengucapkan janji. Orang itu, yang dipegang adalah janjinya. Jadi, ketika janji itu tidak ditepati maka selamanya Anda tidak akan lagi dipercaya oleh siapapun, meskipun sebenarnya suatu saat Anda bisa saja benar-benar jujur. Sama hal yang dilakukan oleh politisi Gerindra Habiburokhman belakangan ditagih janjinya oleh netizen untuk terjun dari puncak mona. Loh, kenapa kok bisa ditagih terjun dari puncak Monas?

Ketua Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra itu pernah bernazar akan terjun dari puncak Monas jika “Teman Ahok” mampu mengumpulkan 1 juta data KTP dukungan terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Dalam pekan ini, Teman Ahok mengumumkan bahwa mereka berhasil mengumpulkan 1 juta data KTP. Tak pelak, desakan agar Habiburokhman menepati janjinya pun bermunculan. Salah satunya datang dari salah seorang sutradara kondang, Joko Anwar.

Ia pun mem-posting foto kicauan Habiburokhman soal janji terjun dari Monas. “Be strong, @habiburokhman #SejutaTemanAhok,” tulisnya melalui akun @jokoanwar. Sementara itu, salah satu pendiri “Teman Ahok”, Singgih Widyastomo menyatakan bahwa pihaknya tidak berharap Habiburokhman menepati janjinya. “Jadi ya kita sih enggak menyarankan, tapi memang kalau manusia itu yang dipegang kan janjinya. Kami enggak memaksa untuk menepati janji kok,” ujar Singgih kepada Kompas.com, dikutip Senin (20/6/2016).

Baca:   Mau disiapkan Ahok ambulans, Habiburokhman: Sebaiknya Ahok segera fitting rompi oranye saja

Singgih mengatakan, ia tidak ingin perayaan 1 juta KTP malah memakan korban. Lagipula, kata Singgih, keyakinannya melarang seseorang untuk bunuh diri. “Kita juga mengingatkan aja nih, tinggi Monas itu 362 meter. Dalam agama saya bunuh diri itu dilarang loh,” ujar Singgih. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yakin Habiburokhman sedang mencari alasan untuk menghindari janjinya terjun dari Monas.

Dengan nada bercanda, Ahok menawarkan solusi agar Habiburokhman tak jadi melakukan nazarnya itu. “Aku ngajarin dia cara ngelesnya dia gitu ya,” kata dia di Balai Kota. Menurut dia, Habiburokhman bisa menggunakan alasan bahwa 1 juta data KTP yang sudah dikumpulkan oleh “Teman Ahok” tersebut belum diverifikasi Komisi Pemilihan Umum sehingga keabsahannya masih bisa dipertanyakan. “Kan belum diverifikasi sejutanya, bisa saja ada yang bohong. Ya, enggak? Jadi, saya enggak mesti terjun dong, mesti verifikasi dulu dong,” ujar dia.

“Kalau verifikasi kan ya habis Lebaran dulu kan, ya masih lumayan itu,” sambung dia. Dalam kondisi tersebut, Habiburokhman pun akhirnya angkat bicara. Melalui akun Twitter miliknya, ia menyampaikan penilaiannya bahwa 1 juta data KTP tersebut hanya klaim sepihak Teman Ahok.

Baca:   Mustahil bagi PDI-P tunduk pada 'Teman Ahok'

“1) Klaim 1 jt KTP tersebut sangat tidak dapat dipercaya karena satu- satunya pihak yang menghitung, memverifikasi dan mengklaim hanyalah Teman Ahok sendiri,” demikian yang tertulis melalui akun Twitter @habiburokhman. Ia juga mengaku ragu akan kredibilitas Teman Ahok sebagai komunitas pendukung Ahok. Sebab, menurut dia, ada isu mengenai aliran dana sebesar Rp 30 miliar dari pengembang proyek reklamasi yang mengalir ke Teman Ahok.

“Saya menganggap klain tersebut tidak lebih dari psywar politik murahan, hanya untuk mengangkat popularitas Ahok yang dibenci rakyat,” tulis Habiburokhman. Keraguan atas 1 juta data KTP yang dikumpulkan Teman Ahok, kata Habiburokhman, juga terlihat dari sikap Ahok yang masih berharap pada partai politik. Begitu pun dengan sikap Teman Ahok, mereka kini melunak dengan partai politik. Hal lain yang membuat Habiburokhman meragukan Teman Ahok adalah langkah kelompok relawan itu yang mengajukan uji materi UU Pilkada.

“Selain itu Teman Ahok juga terlihat sangat ketakutan ketika dalam UU Pilkada yang baru metode verifikasi dilakukan dengan sensus atau pengecekan satu persatu,” ujar Habiburokhman. “Melihat gelagataya saya curiga pasti ada masalah besar dalam pengumpulan KTP tersebut, mungkin saja terjadi manipulasi selama pengumpulan KTP,” tambah dia.