Ramadhan Berdarah, Pelaku Teror di Tunisia Membantai 39 Orang Sambil Tertawa

Abu-Yahya-al-Qayrawani

Ditengah suasana ramadhan, aksi teror berdarah justru terjadi di Tunisia pada 27 Juni 2015. Aksi mengerikan itu terjadi di sebuah hotel di kawasan pantai di Sousse, Tunisia. Sekitar 39 orang yang menjadi tamu di hotel tersebut diberondong senapan Kalashnikov. Pelakuknya adalah seorang pria yang menyamar menjadi turis masuk hotel dan membantai korbannya. Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) pun mengklaim sebagai biang teror berdarah tersebut.

Saat masuk hotel, pelaku teror menyembunyikan senapan di dalam payung dan mengumbar tembakan setelah masuk ke hotel di kawasan pantai. Beberapa korban tewas di antaranya warga asing asal Inggris, Jerman dan Belgia. Para wisatawan yang ketakutan, berlari untuk mencari perlindungan setelah tembakan dan ledakan terjadi di Hotel Imperial Marhaba di Sousse, sekitar 140 km (90 mil) sebelah selatan Ibu Kota Tunis, Tunisia.

Banyak mayat wisatawan tergeletak di pasir. Sebagian ditutup dengan handuk dan selimut. Bercak-bercak darah juga belum dihilangkan. “Ini selalu tempat yang aman, tapi hari ini adalah horor,” kata seorang wisatawan Irlandia yang hanya memberikan nama depannya, Anthony. “Dia (pelaku) mulai muncul di pantai dan pergi ke lobi (hotel), membunuh dengan darah dingin,” lanjut dia, seperti dikutip Reuters, dilansir dari Sindonews.com, Minggu 28 Juni 2015.

Baca:   Mantan Auditor BPK Sebut Hasil Audit BPK Soal Sumber Waras Keliru

Kelompok ISIS melalui Twitter merilis tiga foto sebagai klaim pelaku tragedi Ramadan berdarah di Tunisia. Foto itu menunjukkan seorang pria yang tampak dari belakang berjalan menyusuri jalan sembari memegang senapan serbu. “Saudara kami, prajurit dari ‘Khilafah’, Abu Yihya al-Kairouni, mencapai sasarannya di Imperial Hotel,” bunyi klaim ISIS. Kelompok ini meyebut hotel yang diserang adalah ‘rumah bordil’ dan para korbannya dianggap kafir.

Rafik Chelli, seorang pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Tunisia, mengatakan si penembak telah tewas. Sumber keamanan Tunisia menyatakan, pelaku serangan adalah Saifeddine Rezgui, seorang mahasiswa teknik listrik berusia 23 tahun. Aksi pelaku teror yang menembak mati puluhan orang sambil tertawa itu diungkap para saksi mata di lokasi kejadian.

Baca:   7 Fakta Cinta Terlarang Antara Ibu dan Anak Kandung, Sama-Sama Suka Hingga Lahirkan Bayi

“Dia (pelaku) tertawa dan bercanda, seperti orang normal,” kata seorang saksi kepada Daily Mail, yang menolak diidentifikasi.

“Dia memilih siapa yang harus ditembak,” lanjut saksi mata itu. “Dia mengatakan kepada orang-orang (yang bukan target); ‘Anda pergi’. Dia ternyata memilih turis Inggris dan Prancis,” imbuh saksi mata. Saksi mata lainnya, Sarah Wilson, 26,  mengaku berlari setelah mendengar suara tembakan. “Saya berlari, mayat terakhir ada di pantai yang berupaya mencapai hotel kami. Ini adalah kekacauan. Ada tubuh seseorang di kolam renang hotel dan itu penuh dengan darah,” ujar Sarah.

Tunangannya, Matthew James, 30, yang berada di pantai ikut terluka setelah penyerang melepaskan tembakan. James saat kejadian sejatinya sedang bebaring menikmati sinar matahari. “Dia pasang badan dari peluru yang diarahkan untuk saya. Saya berutang nyawa, karena dia melemparkan dirinya di depan saya ketika penembakan dimulai,” kata Sarah yang berbicara di rumah sakit. “Dia berlumuran darah akibat tembakan, tapi dia hanya mengatakan kepada saya untuk lari.”

Baca:   Polisi Prancis Rilis Dua Foto diduga Pelaku Teror Charlie Hebdo

Video serangan itu juga sudah beredar secara online. Dalam video tampak para saksi panik berjalan melalui jalan-jalan di sepanjang pantai, sementara suara tembakan terus bergema.

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah mengklaim bertanggungjawab atas teror berdarah ini. ISIS, dalam sebuah pernyataan mengklaim pria bersenjata yang membantai puluhan orang di Tunisia adalah Abu Yahya al-Qayrawani. “Tentara ‘khilafah’ yang menargetkan musuh yang ada di rumah bordil,” bunyi pernyataan ISIS yang menyebut hotel itu sebagai rumah bordil.

Klaim ISIS itu terpantau situs SITE, sebuah situs intelijen yang memantau aktivitas terorisme. Menurut SITE pernyataan ISIS itu disebarkan via Twitter.

loading...