Rawan Albutairi, ekonom cantik yang ingin mengubah wajah Arab Saudi

Rawan-Albutairi

Di Forum Ekonomi Dunia yang berlangsung di Davos, Swiss, pada 20-23 Januari 2016 lalu, Rawan Albutairi menjadi perhatian sejumlah delegasi. Lalau, siapakah Rawan Albutairi? Dia adalah salah seorang dari delegasi perempuan yang berjumlah 18 persen, dan sangat jarang yang berusia dibawah 30 tahun, terutama yang berasal dari Arab Saudi. Seperti dilaporkan oleh Joe Miller di laman BBCNews, perempuan cantik berusia 28 tahun ini menarik perhatian karena beberapa alasan.

Albutairi memimpin analis keuangan di perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia, Aramco, mengelola anggaran miliaran dolar AS. Dia juga salah satu peraih “Global Shapers”, sebuah penghargaan bagi usahanya mendorong perempuan muda untuk memasuki dunia kerja yang didominasi oleh laki-laki di Arab Saudi. Yang juga menarik, dia saat ini tengah menjalani pelatihan untuk persiapan mengikuti Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, yang akan digelar pada akhir tahun 2016. Rawan Albutairi akan berkompetisi sebagai atlet perempuan pertama dalam tim anggar Kerajaan Saudi. Sambil berkelakar, dia mengaku sebagai “orang asing” di negaranya.

Gegar budaya

Di Arab Saudi, hanya satu dari lima perempuan usia produktif yang menjadi pekerja, menurut data Bank dunia, dan penurunan harga minyak telah menambah tekanan terhadap perusahaan yang tidak mampu memelihara orang-orang berbakat ini. Rawan meraih sukses tak lepas dari keluarganya yang sangat progresif. “Ayah saya mengajarkan kami mandiri sejak kami masih sangat kecil,” katanya, dilansir dari sayangi.com, Kamis (10/3/2016). Dua orang kakak perempuannya belajar dalam sistem pendidikan tradisional Saudi, tetapi itu tidak membuat Rawan kagum, dan menginginkan sesuatu yang lebih.

Baca:   Kisah Sukses Pengemis Jakarta, Miliki 7 Rumah dan Punya Harta Rp 5 Miliar

Beruntung, dia termasuk salah seorang yang merasakan manfaat dari program beasiswa King Abdullah, yang diluncurkan pada 2005 untuk membantu warga Saudi yang ingin melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat. Di Universitas Maine, di mana dia belajar keuangan, Rawan merasakan gegar budaya. Para mahasiswa tingkat akhir mempertanyakan mengapa dia tidak menggunakan hijab, apakah perempuan benar-benar dilarang menyetir di Kerajaan Saudi, dan apakah dia akan menerima perjodohan dalam pernikahan.

Rawan juga belajar anggar, dan banyak berpergian selama di AS. Tetapi akhirnya, rumah memberikan isyarat. “Saya kangen keluarga saya, jadi saya memutuskan untuk kembali ke Saudi,” ujarnya, tanpa tanda-tanda penyesalan. Ia menambahkan: “Jika Anda melihat kampus Aramco, Anda tidak akan menyalahkan seseorang yang ingin bekerja di sana.”

Al-Khobar Global Shapers

Baca:   Akan Ada Sex Shop Halal di Mekkah Arab Saudi?

Melalui pusat Al-Khobar Global Shapers, yang didirikannya, Rawan bekerja dengan sekolah lokal ( hanya sekolah anak perempuan, dia tidak diijinkan untuk memasuki sekolah laki-laki) mengunjungi kelas-kelas dan berupaya untuk menginspirasi anak-anak perempuan untuk merintis karir seperti yang dilakukannya. “Anda dapat melihat di mata mereka; mereka ingin menjadi insiyur, ingin menjadi pengacara, tetapi mereka kurang mendapatkan bimbingan, mereka kekurangan kesempatan. Itu sangat membuat patah hati,” katanya.

Tetapi, meski ada hambatan bagi anak-anak perempuan di Arab Saudi, seperti larangan seorang perempuan untuk menyetir, atau meninggalkan rumah tanpa ditemani, Rawan mengatakan yang penting adalah apa yang terjadi di rumah. “Sayangnya, banyak anak-anak perempuan, rintisan karirnya tidak hanya diputuskan oleh mereka ingin menjadi apa, tetapi juga budaya, latar belakang mereka. Kami berupaya dan mendorong mereka, tetapi itu tergantung bagaimana mereka mendorong orangtua, untuk membuat mereka setuju.”

Rawan tampak berhati-hati mengkritik pemerintah Saudi. Dia bersikeras pemerintah telah berupaya yang terbaik untuk menunjukkan orang-orang muda sebagai panutan seperti dirinya, dan membuat lebih banyak perempuan dalam dunia kerja.

Saudinisasi

Salah satu contoh yang dia sebut adalah skema Nitaqat -atau seperti yang dikenal dengan nama “Saudinisasi”- yang dirancang untuk mendorong perusahaan-perusahaan agar lebih mempekerjakan warga negara Arab Saudi, dibandingkan orang asing. “Jika Anda mempekerjakan seorang pria Saudi, Anda mendapatkan satu poin untuk program Anda,” kata Rawan, “Tetapi jika Anda mempekerjakan perempuan, Anda mendapat dua poin”. Dia juga tertarik untuk menunjukkan, setidaknya ditempatnya bekerja, perempuan diberi kesempatan yang sama.

Baca:   Wow! Toko Alat Seks Halal Pertama Kini Hadir di Mekkah

“Perbedaannya adalah bahwa kami menggunakan Abaya (pakaian hitam). Saya berbicara kepada beberapa orang yang bekerja untuk Exxon Mobil dan Shell, dan kami melakukan hal yang sama!”. Untuk mengemudi, Rawan merasa senang memiliki seorang supir, meskipun dia memiliki pilihan untuk mempunyai mobil sendiri, dan meyakinkan peraturan itu akan lebih longgar dalam beberapa tahun mendatang. Rawan terkesan mengecilkan sisi kejam dari Kerajaan, dengan keyakinan bahwa otoritas akan mengalihkan perhatian dari kemajuan yang dibuat oleh perempuan seperti dia.

“Saya sangat yakin bahwa perubahan sedang terjadi,” ujarnya. Bagaimanapun, saat ini, Rawan akan segera fokus pada anggar. Dalam beberapa bulan ke depan dia akan menjalani sesi latihan dan turnamen, dan beralih dari pekerjaannya. Apakah ia yakin dapat meraih medali dalam Rio 2016? Sambil tertawa, Rawan menjawab: “Saya harap, Insya Allah.”

loading...