Remaja ini bunuh diri karena alergi WiFi

Jenny-Fry

Seorang ibu dari Chadlington, Oxfordshire mengatakan bahwa anaknya meninggal dunia karena WiFi. Ibu ini juga menuduh sekolah tempat anaknya belajar telah gagal menghadirkan lingkungan sekolah yang aman bagi putrinya. Jenny Fry 15 tahun, nama gadis remaja itu, ditemukan tewas dekat rumah pada 11 Juni tahun 2015. Sebelum remaja itu ditemukan tewas, is sempat mengirim SMS kepada temannya dan mengatakan ia tidak berangkat sekolah dan berencana bunuh diri.

Hasil pemeriksaan resmi mengatakan bahwa remaja ini cerdas dan terorganisasi, namun hidupnya dibuat sulit karena ini memiliki kondisi electro-hypersensitivity (EHS), sensitifitas berlebihan terhadap sinyal elektronik. Ibu Jenny, Debra Fry, mengungkapkan bahwa anak perempuannya mengalami kelelahan, sakit kepala, dan masalah buang air kecil, karena koneksi internet nirkabel di sekolah Chipping Norton tempatnya belajar.

Jenny sudah menunjukkan tanda-tanda EHS sejak November 2012. Semakin dekat dengan ruter nirkabel, semakin buruk kondisi tubuhnya. “Jenny merasa tak enak, dan begitu juga saya,” ungkap Debra dikutip dari Liputan6.com, Rabu 2 November 2015, “Saya melakukan riset dan menemukan bagaimana bahayanya WiFi, sehingga harus dibawa ke luar rumah.

“Baik Jenny dan saya baik-baik saja di rumah, namun Jenny merasa tak enak badan di area-area tertentu di sekolahnya. Ia sering dihukum, bukan karena mengganggu murid lainnya atau berperilaku buruk. Namun seringkali karena ia keluar ruang kelas untuk mencari tempat mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Ia menganggap serius tugas sekolahnya. Saya mengambil banyak informasi ke sekolah untuk menunjukkan pada kepala guru, Simon Duffy, namun ia mengatakan ada banyak informasi serupa yang meng-klain bahwa WiFi aman.

“Saya juga berdebat dengan para guru, menjelaskan bahwa Jenny alergi terhadap WiFi dan tak masuk akal menghukumnya di dalam ruangan yang membuatnya merasa sakit,” katanya lanjut.Dalam laporan tahun 2005 dari WHO, disebutkan : “EHS dikarakterisasi oleh gejala-gejala tidak spesifik yang berbeda dari individual ke individual. Gejalanya benar-benar ada dan mengakibatkan rasa sakit yang bervariasi.

“Apapun yang disebabkan, EHS bisa menjadi masalah yang melumpuhkan bagi pengidapnya. EHS tidak memiliki kriteria diagnosa yang jelas, dan tak ada basis ilmiah yang mengaitkan gejala EHS pada eksposur EMF. Lebih lanjutnya, EHS bukan diagnosa medis, namun belum jelas juga bahwa itu merupakan masalah medis.”

Baca:   Kamera digital setebal 6 mm laris manis terjual Rp 400 ribuan

Pemeriksaan resmi juga mendapatkan bahwa Jenny sebelumnya pernah berniat untuk bunuh diri pada November 2014, menyusul kematian teman dekatnya, Tom Boomer. Keluarga kini melakukan kampanye terhadap kepedulian EHS dan bahaya teknologi nirkabel pada kesehatan. Mereka berharap aksi yang mereka lakukan ini bisa memberikan perubahan pada penggunaan teknologi nirkabel di sekolah-sekolah.

Debra mengatakan, “Jenny meninggal setelah berteriak meminta pertolongan. Ia mengirim pesan ke temannya bahwa ia ingin mati, namun tidak mengatakan lokasi keberadaannya.”

“Jika ia berencana bunuh diri, ia tak akan mengungkapkan keberadaannya. Namun, temannya tak memegang ponselnya, sehingga tidak melihat pesan Jenny tepat waktu.

“Jenny meninggalkan surat pada kami, mengatakan ia tak sanggup mengatasi kondisinya.

“Ia ingin mendapat nilai bagus dan ingin masuk universitas, namun WiFi berdampak buruk pada pendidikannya. Sampai-sampai, ia harus bersembunyi di kelas tak terpakai untuk menghindari WiFi.

“Dalam kelas ada aturan duduk, namun jika ia dekat dengan ruter, ia akan mengalami sakit kepala dan menjadi sangat terganggu. Jika menjauh, ia akan merasa lebih baik, sehingga ia mencari-cari area sekolah yang tidak diliputi sinyal WiFi untuk melakukan tugas-tugasnya.

“Saya ingat ketika saya menghadap sekolah dan berkata ‘jika seseorang punya alergi kacang, Anda tidak memaksa mereka belajar dikelilingi kacang.

“Hanya karena WiFi baru, tidak berarti membuat kita aman. WiFi dan anak-anak tidak cocok. Perlu banyak riset dilakukan mengenai topik ini, karena saya percaya WiFi membunuh anak saya.”

Simon Duffy, guru kepala mengatakan, “Keamanan murid-murid di sekolah itu penting, dan keamanan jenny di sekolah sama pentingnya dengan anak-anak lainnya.

“Seperti ruang publik kainnya, sekolah Chipping Norton memasang WiWi untuk membuat pekerjaan lebih efektif.

“Pemerintah cukup puas dengan memasang perlengkapan dengan pengaturan yang relevan dan memastikan kasus ini akan berlanjut.”

Koroner Oxfordshire merekam prediksi naratif, namun tidak mengikutsertakan faktor terkait EHS, dengan menyatakan bahwa tak ada catatan medis yang membuktikan Jenny menderita kondisi itu.

Baca:   Phablet Xiaomi Mi Max Resmi dirilis, Usung Layar 6,44 Inci

Apakah EHS benar-benar ada?

‘Penyakit gelombang radio’ pertama kali dideskripsikan dan memiliki sebutan pada tahun 1932, dengan sebagian besar kasus ditemukan pada anggota militer. Pada tahun 2011 seorang wanita bernama Diane Schou menceritakan bahwa ia terpaksa mengabaikan pertanian keluarga di negara bagian Iowa, dan pindah ke Green Bank, sebuah desa kecil di Virginia Barat dengan penduduk hanya 143 orang yang terletak di jantung pegunungan Allegheny.

Green Bank merupakan bagian dari US Radio Quiet Zone, dimana jaringan nirkabel dilarang masuk dalam wilayah 33 ribu km kubik. Schou menyatakan, komunitas itu memudahkannya menghindari gejala alergi yang dialaminya, seperti kulit yang memerah dan gatal, pandangan kabur, dan sakit kepala. Bagaimanapun, kondisi itu sendiri belum diidentifikasi sebagai diagnosis medis. Saat ini, belum ada kriteria riset yang diterima selain ‘gejala yang dilaporkan sendiri’, dan bagi ahli kesehatan tak ada definisi kasus atau aturan praktek klinik.

Dr Jill Meara, Direktur pusat Public Health England (PHE) untuk Radiation, Chemical and Environmental Hazards (bahaya radiasi, kimia, dan lingkungan), mengatakan, “Public Health England sadar bahwa beberapa orang melaporkan gejala yang diakibatkan atau diperburuk oleh EMF, disebut sensitifitas elektrik.

“Bukti ilmiah sejauh ini tidak membuktikan bahwa pemaparan mengakibatkan gejala akut, ataupun beberapa orang mampu mendeteksi lahan frekuensi radio. Bagaimanapun, memerlukan perawatan efektif untuk perihal tersebut.” Pada Agustus 2015, pengadilan Perancis mengeluarkan peraturan bahwa sensitifitas elektromagnetis berlebih pada gelombang WiFi dan ponsel bisa berakibat ‘serius’ dan memasang panduan tertulis, sehingga pengacara bisa mengantarkan pada ribuan klaim.

Walaupun Perancis tidak mengklasifikasikan EHS sebagai masalah medis, pengadilan di Toulouse memutuskan bahwa salah satu penuntut, Marine Richard, seharusnya mendapat 500 euro (Rp. 7,315 juta) per bulan dalam tunjangan disabilitas, karena ia menunjukkan ‘tanda-tanda klinis yang tak bisa dibantah’ dalam gejala-gejala terkait gelombang elektromagnetis.

Pengadilan Perancis sebelumnya menolak membayar benefit disabilitas untuk orang-orang yang menderita sensitifitas elektromagnetis, sehingga setelah memenangkan kasus, Richard mengatakan kemenangannya ini adalah ‘kebanggaan’.