Sadis, Begini Agus Bunuh dan Memutilasi Janda Cantik di Cikupa

Agus

Setelah menjadi buronan selama kurang lebih 1 minggu, tersangka pembunuhan disertai mutilasi di Cikupa, Tangerang, Banten, Kusmayadi, alias Agus bin Dulgani, akhirnya ditangkap polisi di Surabaya pada Rabu 20 April 2016. Pria yang sudah punya anak satu itu akhirnya mengakui semua perbuatannya kepada polisi terkait pembunuhan sadis terhadap seorang janda beranak dua. Menurut Kepala Subdirektorat II Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Herry Heryawan, sebelum kejadian Agus dan Nuri, 30, sering terlibat adu mulut.

“Pada Minggu, 10 April, Agus dan Nuri kembali terlibat pertengkaran hebat,” kata Herry kepada Tempo, dikutip Jumat, 22 April 2016. Berdasarkan pengakuan Agus, kata Herry, karena marah, Nuri dibanting kemudian dipiting lehernya selama 30 menit. Akhirnya korban pun meregang nyawa. Tak puas melihat kekasihnya tewas, Agus mengambil golok yang berada di bawah televisi di kamar kontrakannya dan memotong lengan kanan dan kiri Nuri sebatas bahu.

Untuk melenyapkan barang bukti, Agus lantas meminta bantuan rekannya, Erik, untuk membuang potongan tangan Nuri ke Tempat Pembuangan Sampah Bugel, Tigaraksa. Esok harinya, Agus memotong kaki perempuan yang sudah tak bernyawa itu. Selanjutnya, pada Rabu, 13 April, Agus kabur dengan membuang potongan kaki korban ke Sungai Surya Toto, yang terletak sekitar 500 meter dari Pasar Tigaraksa, Tangerang. Sisa tubuh Nuri ditemukan warga setelah mereka mencium bau busuk dari dalam kontrakan Agus. Mereka melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Cikupa, Tangerang.

Setelah sepekan dalam pencarian, Rabu kemarin Agus ditangkap oleh Tim Penyidik Gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Tangerang, dan Polsek Cikupa, di rumah makan Padang Salero Bundo, Jalan Masrip, Karang Pilang, Surabaya. Agus masih menjalani pemeriksaan intensif. Rencananya, hari ini Agus akan dibawa ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Garuda pada pukul 12.30 WIB. Agus pun mengungkapkan motif pembunuhan itu kepada polisi. Menurut Herry, kepada penyidik Agus menjelaskan bahwa niat membunuh muncul setelah Nuri berkali-kali mendesaknya untuk menikahinya dengan menemui kedua orang tua Nuri di Malimping, Banten.

Pertengkaran pun sering terjadi di antara keduanya. Pertengkaran terutama dipicu tuntutan Nuri agar segera dinikahi sebab janda beranak dua itu sudah hamil 7 bulan. “Nuri sering marah kepada tersangka karena uangnya kurang dan sering terlambat pulang. Ia juga meminta kejelasan status atas hubungan mereka,” kata Herry. Sebelum melakukan pembunuhan, pria yang bekerja sebagai kepala rumah makan minang Gumarang Taruna itu malah bertanya kepada teman-temannya tentang niatnya melakukan pembunuhan.

Pada Kamis, 7 April 2016, Herry melanjutkan, Agus bercerita kepada salah satu rekannya, Valen, bahwa dia sedang memiliki masalah. “Agus bertanya, membunuh orang berdosa besar atau tidak?” ujar Herry. Esok harinya, Agus juga bertanya kepada rekan kerjanya, Erik, soal pengalaman membunuh orang. “Erik mengatakan tidak pernah karena takut.” Pertanyaan serupa ditanyakan lagi pada hari berikutnya.

loading...