Simpan Rp 5.000 per hari dan pernah makan batu, akhirnya pengemis ini naik haji

naik-haji

Dalam kurun beberapa waktu belakangan ini, ada seorang pria asal Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, Jawa Timur yang menjadi pemberitaan media. Pria bernama Ansori 77 tahun yang berprofesi sebagai pengemis adalah calon haji dari Dusun Lojok RT 2 RW 5 dan sudah mengemis selama 30 tahun terakhir. Ansori mengaku sudah mulai mengemis sejak tahun 1980-an. Ia juga mengaku sudah mulai hidup menggelandang sejak kecil karena ditinggal orang tuanya.

“Sejak kecil saya sudah hidup sebatang kara. Bapak saya hilang entah ke mana pada waktu pendudukan Jepang, sementara ibu meninggal. Dan saya hidup sebatang kara lagi setelah ditinggal oleh istri,” kata Ansori di rumahnya di Dusun Lojok, dilansir Tempo.co, Kamis 27 Agustus 2015. Setelah kedua orang tuanya tiada, Ansori kecil hidup menggelandang. Ia sempat dua tahun hidup di sawah dengan makan buah seadanya.

Sebelum memutuskan menggelandang, saat lapar, ia terpaksa makan pecahan batu karena tidak ada orang yang memberinya makanan. “Biasanya saya makan pecahan batu bata di depan pintu rumah.” Jika tak kuasa memakan batu, dia berinisiatif mengumpulkan rumput. Kemudian rumput itu dia tawarkan kepada orang untuk dibeli. “Hasil dari menjual rumput kemudian saya buat makan,” ujar Ansori, mengenang penderitaannya ketika itu.

Baca:   Kriminolog UI: Penggusuran Kalijodo tidak melanggar HAM

Saat menggelandang di sawah, Ansori kecil pernah mengalami sakit parah sehingga tidak bisa berjalan. Pernah ia dikepung luwak dan pernah juga harus mengesot untuk mengambil air minum di sungai. “Badan saya saat itu tidak bisa bergerak. Kulit saya mengering,” ucapnya. Ketika beranjak remaja, Ansori menggelandang di jalanan, tidur di sembarang tempat, dan makan apa saja yang bisa dimakan. “Saya baru berhenti menggelandang setelah menikah dengan almarhum istri saya, Arliyah,” tuturnya.

Kapan menikah? Ansori tak ingat. Namun dia menyebutkan, saat menikah dulu di kantor urusan agama, dia membayar Rp 25 ribu. Setelah menikahi Arliyah, Ansori bekerja serabutan, termasuk menjadi buruh tani sebelum kemudian memutuskan mengemis. Ansori mengaku baru memiliki niatan naik haji setelah ditinggal istrinya. “Saya punya niatan naik haji sekitar tujuh tahun sebelum saya mendaftar haji pada 2009,” ujarnya. Saat mendaftar menjadi calon haji, Ansori baru membayar Rp 20,5 juta. Adapun total biaya ke Tanah Suci mencapai Rp 42,5 juta.

Baca:   Sebelum Meninggal, 'Bunda' Setor Rp200 Miliar ke Dimas Kanjeng untuk Dijadikan Rp18 Triliun

Untuk bisa membayar uang sebanyak itu, ia perlu menabung Rp 5.000 per hari. Uang itu ia titipkan kepada Kayum, kenalannya. Dari hasil mengemis di sekitar Pasuruan, sehari Ansori rata-rata mengumpulkan Rp 20 ribu. “Rp 15 ribu untuk makan, dan sisanya ditabung,” katanya. Ansori baru melunasi ongkos haji pada 2014. Dia kini tergabung dalam kloter 44 yang akan berangkat pada 8 September 2015.

Untuk mempersiapkan keberangkatannya, Ansori dibantu Siti Fatimah, tetangganya sedusun. Kini Ansori berhenti mengemis. “Sejak Lebaran, saya sudah berhenti mengemis,” pungkasnya.