Tenggelamkan Kapal Pencuri Ikan, Malaysia Ancam Balik Sikat TKI Ilegal

presiden Jokowi

Setelah resmi menjabat sebagai Presiden ke 7 RI, Jokowi langsung mengeluarkan pernyataan keras terkait kedaulatan maritim Indonesia. Presiden Jokowi mengatakan bahwa selama ini permasalahan maritim Indonesia tidak diperhatikan dengan serius. Ia pun mengatakan bahwa dirinya sangat kesal karena selama ini banyak nelayan asing yang masuk perairan Indonesia dengan bebas tanpa izin.

Jokowi akhirnya menginstruksikan kepada TNI AL agar tegas menindak kapal nelayan asing itu. Terutama dengan para maling ikan. Jokowi mengizinkan otoritas keamanan laut menenggelamkan kapal asing yang beroperasi tanpa izin. “Enggak usah tangkap-tangkap, langsung saja tenggelamkan. Tenggelamkan 10 atau 20 kapal, nanti baru orang mikir,” kata Jokowi saat itu di Istana Negara pekan lalu.

Jokowi meyakini sikap keras itu akan memicu kalkulasi negara tetangga untuk ikut menjaga warganya masing-masing agar tidak sembarangan memasuki wilayah Indonesia. “Jadi ramai nanti negara lain,” kata Jokowi berseloroh. Namun rupanya pernyataan Jokowi itu dianggap lebay oleh Malaysia, salah satunya dari media massa Utusan Malaysia. Media itu menulis dalam sebuah tajuk yang isinya mengecam keras kebijakan Jokowi soal sikat kapal nelayan asing.

Baca:   Mengaku Cuek Soal Sumber Waras, Ahok: Ada Yang Lebih Jujur, Jangan Pilih Saya

Terkait dengan pernyataan Jokowi tersebut, Malaysia justru tak gentar dan mengancam balik dengan caranya sendiri. Perlawanan itu diungkapkan melalui massa Malaysia yang mengkritik Presiden Jokowi akibat sikapnya yang terlalu keras terhadap isu batas dan pencurian ikan. Situs berita Utusan Malaysia, misalnya, mengangkat judul “Maaf Cakap, Inilah Jokowi”.

Dalam tulisan itu, Jokowi dianggap meneruskan pendekatan konfrontasi dengan Malaysia, terminologi provokatif yang dulu kerap dipakai Presiden RI ke-1 Soekarno era 1960-an. “Arahan itu menggambarkan Jokowi pemimpin yang sedikit angkuh dalam menguruskan isu antara negara,” tulis asisten editor Utusan Malaysia, Ku Seman Ku Hussain seperti dimuat utusan.com, Minggu (23/11/2014).

Baca:   Tommy Soeharto: Jokowi Bukan Petugas Partai Tapi Petugas Rakyat

Kebijakan Jokowi yang meminta TNI AL menenggelamkan kapal nelayan asing ilegal, termasuk dari Malaysia, dinilai memperburuk hubungan dua negara serumpun ini. Dalam tajuk itu, citra tata krama ala Indonesia juga disindir. Kalau perlu, menurut Utusan Malaysia, istilah ‘negara serumpun’ harus direvisi bila pemerintah Indonesia ternyata mengedepankan sikap bermusuhan.

“Saat ini bisa ditelaah kembali frasa ‘bangsa serumpun’, dalam konteks yang lebih realistis ketika ini supaya tidak kelihatan hanya Malaysia saja yang beriya-iya sedangkan Indonesia sebaliknya,” ujar Ku Seman Ku Hussain. Selain menyindir masalah negara serumpun, penangkapan 524 nelayan ilegal di Kepulauan Derawan, termasuk dari Malaysia beberapa waktu lalu dianggap tidak adil. Utusan Malaysia membandingkan kebijakan pemerintah RI dengan cara mereka memperlakukan TKI.

Baca:   Apa Maksudnya Prabowo Subianto Sindir Fadli Zon Langkahnya Semakin Berat?

Negeri Jiran, menurut Utusan Malaysia, sebetulnya gerah dengan pelanggaran hukum para TKI ilegal. Kalau memang Indonesia ingin main keras, maka media itu meminta pemerintah Malaysia juga tak pandang bulu menyikat semua buruh migran dari Tanah Air yang datang tanpa izin, dikutip dari Merdeka.com.

“Adakah arahan kontroversi ini bertujuan memberi ilham kepada pihak berkuasa Malaysia bertindak di luar batas kemanusiaan dalam menangani pencerobohan pendatang tanpa izin Indonesia ke negara ini?” tulis tajuk tersebut.

loading...