Terbukti Berhubungan Intim Dengan 3 Muridnya Ibu Guru dipenjara 22 Tahun

Jennifer-Fichter

Seorang ibu guru bernama Jennifer Fichter 30 tahun telah terbukti melakukan hubungan intim dengan 3 muridnya. Guru yang mengajar di sebuah sekolah di Florida, AS itu terbukti telah melakukan hubungan intim dengan muridnya yang berumur 17 tahun. Akibat dari perbuatannya, Jennifer harus mendekam di penjara selama 22 tahun. Dalam sidang, Jennifer telah mengakui perbuatannya dengan 3 muridnya. Baca juga [Berhubungan Seks Dengan Muridnya, Guru Cantik Ini dipenjara]

Atas pengakuannya itu, ia memohon keringanan hukuman dari hakim. Namun, hakim yang menyebutnya sebagai seorang “predator” justru menghadiahi Jennifer hukuman yang panjang. “Yang bisa saya katakan hanyalah meminta maaf. Saya berharap, saya bisa membatalkan apa yang sudah saya lakukan, dan saya tahu permintaan maaf saja tidak cukup,” ujar Jennifer di hadapan hakim dan keluarga korbannya, dikutip dari Kompas.com, Minggu 5 Juli 2015.

Baca:   'Wanita Emas' Bagi-Bagi Uang Bikin Heboh Open House Ketua DPR

Setelah meninggalkan pekerjaan terdahulunya karena dituduh melakukan tindakan tak pantas dengan muridnya, Jennifer masih mendapatkan pekerjaan di sebuah sekolah distrik di Florida pada Agustus 2011. Sebulan setelah dia bekerja, Jennifer sudah dituduh melakukan hubungan seksual dengan salah satu muridnya. Dia bertemu dengan para korbannya pada acara-acara pesta dan menggunakan apartemennya untuk berhubungan seksual dengan para muridnya itu.

Baca:   Takut Suami Selingkuh, Para Istri di Arab Saudi Tolak Pembantu Cantik

Dalam salah satu percakapan teleponnya yang disadap dan diputar di pengadilan, Jennifer mengatakan bahwa dia pernah menggugurkan kandungan satu kali dan mengaku melakukan beberapa kali hubungan seksual dengan para muridnya itu. Jaksa menuntut Jennifer dengan 32 dakwaan terkait hubungan seksual dengan anak-anak. Jaksa menekankan dakwaannya karena, meski Jennifer adalah seorang perempuan, dan meski para korbannya tak merasa dipaksa, tetap saja mereka adalah korban.

“Sangat menyakitkan. Saya telah kehilangan putra saya di depan mata kepala saya, dan saya tak bisa melakukan apa pun untuk mencegahnya,” ujar ibu salah seorang korban.