Terima uang salah transfer Rp 5,1 miliar, nasabah BNI habiskan Rp 2,2 miliar

nasabah-terima-uang-nyasar

Berita ini mungkin bisa jadi pelajaran buat kamu yang merasa tiba-tiba memiliki uang yang jumlahnya fantastis dalam rekening kamu. Sebelum melakukan apa-apa terhadap uang tersebut, sebaiknya kamu cari tahu dulu asal muasal uang tersebut. Jangan sampai kamu terkena masalah di kemudian hari. Jangan seperti yang dialami oleh Suparman (51), warga Ngabang, Landak, Kalimantan Barat, nasabah Bank Negara Indonesia (BNI) cabang Pontianak.

Awalnya, Suparman menerima uang “nyasar” Rp 5,1 miliar di rekeningnya. Merasa menerima uang kaget, ia lalu menguras uang tersebut dari rekeningnya sebanyak Rp 2,2 miliar. Suparman menuturkan, kejadian bermula saat dia menerima SMS banking pada tanggal 2 Februari 2015 malam bahwa ada uang masuk ke rekeningnya sebesar Rp 5.104.439.450. Tanpa melakukan konfirmasi, pada tanggal 4 Februari 2015, dirinya lalu melakukan penarikan melalui ATM sebesar Rp 10 juta dan mentransfer uang sebesar Rp 100 juta kepada rekannya.

Pada tanggal 5 Februari 2015, dia kembali melakukan transaksi lagi dengan mentransfer sebesar Rp 100 juta kepada temannya. Kemudian pada hari yang sama, Suparman menarik tunai sebesar Rp 10 juta melalui ATM dan Rp 500 juta di BNI Ngabang. Masih pada tanggal yang sama, dirinya juga mentransfer sebanyak tiga kali kepada temannya sebesar Rp 1,5 miliar. Total transaksi yang dilakukannya pada 4 dan 5 Februari itu sebesar Rp 2,2 miliar.

Baca:   Ahmad Dhani: Jokowi Suruh Relawan Dukung Ahok, Emangnya Kita Bodoh?

Lalu, lanjut Suparman, ketika mengecek saldo pada sore hari sekitar pukul 17.54 WIB di tanggal yang sama, saldo yang seharusnya masih tersisa lebih dari Rp 2,8 miliar sudah tidak ada. Keesokan harinya, tepatnya tanggal 6 Februari 2015, pihak pimpinan BNI Pontianak dan Ngabang memintanya untuk mengembalikan uang sebesar Rp 500 juta.

“Saya juga sudah lapor ke Dirkrimsus Polda Kalbar tentang tindak pidana perbankan. Tapi dari hasil penyelidikan polisi, laporan tersebut dihentikan. Karena sudah berkoordinasi dengan OJK, dan OJK menyatakan salah transfer oleh BNI tidak melanggar ketentuan,” katanya, dikutip dari Kompas.com, Rabu 11 November 2015.

Rekening Suparman diblokir pihak Bank BNI

Suparman mengaku kecewa terhadap Bank Negara Indonesia (BNI) cabang Pontianak karena memblokir rekeningnya gara-gara dirinya menerima uang “nyasar” Rp 5,1 miliar. “Sampai sekarang saya belum tahu dari mana asal-muasal uang yang masuk itu. Jadi kalau ada kasus pencucian uang, bisa-bisa saya kena juga. Itu yang saya tidak mau, makanya saya minta penjelasan yang jelas dari pihak BNI,” ujarnya.

Baca:   Warga Kalijodo: Ahok gue sumpahin biar kalah di Pilgub DKI (2017)

Suparman mengaku sempat membuat laporan ke Polda Kalbar mengenai tindakan BNI tersebut. Polda baru mengirim surat pemberitahuan hasil penyelidikan tertanggal 29 Oktober 2015 yang menyatakan bahwa penyelidikan terhadap laporannya dihentikan pada tanggal 24 April 2015. Sementara itu, Pemimpin Cabang Pembantu Bank BNI Ngabang, Okta Ansardi, mengaku bahwa permasalahan uang Rp 5,1 miliar yang nyasar ke rekening Suparman itu sudah diserahkan ke pihak Kantor BNI di Pontianak.

Okta mengaku, dirinya tidak bisa memberikan keterangan lebih jauh mengenai masalah tersebut. “Kami tidak bisa ngomong apa-apa lagi, dan kami hanya laporkan ke kantor pusat. Sebab, kami di sini hanya cabang pembantu, jadi tidak punya hak lagi untuk memberikan keterangan masalah itu,” ujarnya. Namun, melalui keterangan tertulis, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyatakan kejadian salah transfer kepada nasabah di Pontianak telah diselesaikan.

Corporate Secretary BNI Tribuana Tunggadewi menyatakan tidak ada kerugian finansial yang dialami nasabah maupun BNI. Mmmm…semoga saja kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi pihak Bank agar tidak terjadi kesalahan yang sama di kemudian hari.