Tersangka teroris Paris ternyata pernah datang ke pesantren Bandung

Frederick-Jean-Salvi
Salah satu tersangka pelaku penyerangan di Paris, Prancis diketahui pernah datang di Bandung untuk bertemu dengan Kiai Haji Imang Abdul Hamid, pemimpin Pondok Pesantren Al-Jawami. Mengetahui hal itu, Kiai Haji Imang Abdul Hamid mengaku sempat kaget dan tidak menyangka pria bernama Frederick itu terlibat. “Tidak nyangka Frederick terlibat teror Paris. Dulu saya pikir dia aman-aman saja. Kalau tahu dia terlibat, tentu saya tolak memasuki pesantren,” kata Abdul Hamid.

Baca:   Ahmad Dhani sebut partai Islam yang dukung Ahok telah menjual imannya

Abdul Hamid mengatakan kedatangan Frederick ke Al-Jawami hanya sebatas bertamu. Dia hanya ingin berkeliling pesantren-pesantren di Indonesia. “Tidak untuk menyumbang dana atau mengajar para santri,” ucapnya. Abdul Hamid menambahkan, kedatangan Frederic ke Pesantren Al-Jawami tidak berarti para santri di pesantren itu terlibat kegiatan teror.

“Para santri diajarkan uswatun hasanah (berperilaku baik) dan menjadi muslim yang rahmatan lil alamin. Orang yang manfaat kepada semua, bukan orang yang berbuat kerusakan dan teror. Bahkan para santri Al-Jawami dilarang demo,” ujarnya, dilansir Tempo.co. Saat Frederick datang berkunjung, Abdul Hamid mengaku menyambutnya tanpa prasangka apa pun. “Sebagai muslim, saya harus menghormati tamu. Apalagi tamu dari jauh.” Abdul Hamid melihat saat itu Frederick adalah sosok yang family man. “Dia terlihat rukun dengan istri dan dua putrinya,” katanya.

Baca:   Tarif Pasutri Pemain Film Porno di Jaksel Rp 800 Ribu Sekali Beraksi

Frederick memiliki nama lengkap Frederick C. Jean Salvi alias Ali. Pria berusia 41 tahun itu lahir di Pontarlier, Prancis. Ia dijadikan tersangka pelaku penyerangan di Paris beberapa waktu lalu. Menurut pengakuan Abdul Hamid, pada 2005, Frederick rutin mendatangi Pesantren Al-Jawami sebanyak empat kali. Saat bertemu dengan Abdul Hamid, Frederick diantar seorang pria misterius. Pria itu hanya mengatakan Frederick adalah muslim Prancis yang ingin melihat pesantren-pesantren di Indonesia.

Baca:   Anak-Anak Korban Senjata Kimia 40 Tahun Silam

“Sampai sekarang saya tidak tahu nama pemuda itu. Dia datang tanpa memperkenalkan diri. Makanya saya kurang interested,” ucapnya.

loading...