Terungkap, Penggusuran Kalijoodo Ide Tito, dieksekusi Ahok

ahok-dan-tito

Kawasan prostitusi Kalijodo kini telah rata dengan tanah setelah digusur Gubernur DKI Jakarta Ahok beberapa bulan lalu. Penggusuran itu ternyata bukan murni ide Ahok, melainkan gagasan dari Tito Karnavian yang saat itu menjadi Kapolda Metro Jaya. Pengakuan ini disampaikan Tito dalam sebuah acara dialog antar umat beragama di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016).

“Penggusuran Kalijodo itu kepentingan saya. Ada korban ketabrak oleh mobil yang pulang minum-minum dari Kalijodo. Dari sana awalnya,” ujar Tito yang kini Kapolri tersebut. Pernyataan ini terlontar saat Lius Sungkharisma dari Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi menasihati Tito agar tak tunduk pada Ahok. Lius juga menyinggung jika penggusuran di Kalijodo beberapa waktu lalu, Tito dijadikan sebagai alat oleh Ahok untuk kepentingannya sebagai gubernur.

Baca:   Ini saran Tri Rismaharini kepada Ahok soal penggusuran Kalijodo

Menurut Tito, niatnya menggusur Kalijodo langsung disambut Ahok. Namun, Ahok sempat ragu melakukan penggusuran. Tito mengatakan, Ahok takut akan banyak perlawanan, apalagi daerah itu jadi sarang para preman. “Saya bilang ke Pak Ahok, enggak usah masuk. Biar kami yang main, kami perkirakan ada ratusan preman di sana, ya sudah kami turunkan 4.000 orang. Langsung penuh itu Kalijodo,” Tito menjelaskan.

Tito menanyakan pada Ahok, setelah diratakan bakal dibuat apa. Kala itu, menurut Tito, Ahok menjawab akan membangun taman dan RPTA. Tito girang bukan main sebab ia dapat dukungan dari eksekutif Provinsi DKI Jakarta. “Paling mudah menggusur lokalisasi daripada permukiman masyarakat. Di sana semuanya lengkap, ya prostitusinya, judinya, premanismenya, narkotikanya,” jelas Tito, dikutip dari liputan6.com, Senin (8/8/2016).

Baca:   Jokowi Masuk 50 Besar Orang Paling Berpengaruh di Dunia versi Majalah Fortune

Namun, Tito tak nyaman saat disebut memiliki hubungan mesra dengan Ahok. Menurut dia, hubungannya dengan Ahok adalah sebuah kewajiban sebagai petinggi di suatu daerah. Ia menyebutkan, jika hubungan baik dengan Ahok tak terjaga, sudah pasti Jakarta kacau balau. “Semua petinggi harus saling dukung. Polisi, TNI, dan pemerintahan harus saling dukung,” kata Kapolri Tito.