Tidak Dapat Uang Saku, Bocah 12 Tahun di Bandung Jadi PSK

psk-bocah-12-tahun

Sungguh malang nasib bocah ini. Usia masih belia tapi sudah menjadi PSK dan melayani pria hidung belang yang ingin menikmati tubuhnya. Berdasarkan hasil temuan Polrestabes Bandung pada bulan Ramadhan lalu, bocah kelas VI SD itu baru berumur 12 tahun alias masih bocah ingusan. “Ramadhan lalu kami bertemu dengan Kapolres, lalu ia menceritakan tentang anak kelas VI SD yang jadi Ayla panggilan tersebut,” ujar Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Netty Prasetiyani Heryawan di Gedung Sate, Bandung.

Netty menjelaskan, anak tersebut sudah lama menjalani pekerjaan ini. Anak ini memiliki ojek langganan dan nomor ponsel tertentu yang bisa menghubungkan dia dengan pelanggannya. “Bahkan di luar jam melayani pelanggannya, dia melayani tukang ojeknya,” ucap Netty, dikutip dari Kompas.com, Kamis 23 Juli 2015. Saat ini, anak tersebut tidak berada dalam perlindungan P2TP2A. Sebab, sang ibu meminta kepada polisi untuk mendidik anaknya di rumah. Netty mengaku tidak bisa menjamin apakah anak tersebut tidak akan kembali menjadi PSK panggilan. Sebab, dalam kasus seperti ini diperlukan pendampingan.

Baca:   Sungguh Mengerikan! Video Bocah Tiga Tahun Tertimpa Pintu Mall, Begini Kondisi Sang Bocah

P2TP2A terus berkoordinasi dengan Polrestabes Bandung. “Kalau dititipkan ke saya juga enggak akan mau, karena orangtua ingin mendidiknya,” imbuh dia. Persoalan ini, sambung Netty, menjadi masalah baru bagi anak-anak di Jawa Barat, khususnya dan Indonesia pada umumnya. Menurut Netty, demi menyelesaikan persoalan ini diperlukan kerja bersama antar semua pihak.

Alasan Uang

Netty lalu mengatakan, alasan bocah ini menjadi PSK panggilan adalah soal uang saku. Namun, ia melihat ada yang janggal dengan alasan tersebut, jika dilihat dari jawaban si anak. “Tanyakan saja kepada ibu saya. Berapa banyak dia memberikan uang setiap hari,” ucap Netty menirukan ucapan sang anak. Bagi Netty, alasan anak tersebut terdengar klasik, tapi agak aneh. “Mengapa anak kelas VI SD mencari jalan keluar dari kebutuhan uang sakunya yang lebih besar dengan melakoni PSK anak?” tutur Netty.

Baca:   6 Fakta Tentang Rurik Jutting Pelaku Mutilasi TKI di Hongkong

Netty menilai, ada hal lain yang menjadi alasan si anak. Misalnya, ada tarikan lingkungan yang sangat kuat, sehingga anak bisa dengan mudahnya menjadi PSK. Tarikan lingkungan tersebut bisa berupa nilai-nilai dari tayangan televisi, hingga akses ke media yang sangat global. Menurut Netty, persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama. Setiap institusi maupun masyarakat harus ikut andil, agar masalah yang dihadapi anak bisa diminimalisasi. Dia mencatat, kasus terhadap anak setiap tahunnya meningkat.