Tidak Waras! Sudah Sarjana Masih Percaya Tali Pocong Bawa Hoki

tali-pocong-mitos

Pendidikan tinggi tidak menjadi jaminan seseorang bisa berpikir ‘waras’ dan maju. Buktinya adalah pria yang satu ini yang sudah sarjana namun masih percaya mitos mengenai keberuntungan tali pocong. Pria tersebut ditangkap warga saat mencuri tali pocong di Kampung Cakung Payangan RT 05 RW 02, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, dini hari 16 Juli 2015.

Pria bernama Tezar Cipta Pramadi (35) kedapatan menggali kubur untuk mengambil tali pocong mayat. “Pelaku ditangkap warga di area TPU Jatisari,” kata Kasubag Humas Polresta Bekasi Kota, AKP Siswo di Bekasi. Siswo menjelaskan, pelaku yang tercatat sebagai warga Jalan Cekatan III nomor 43 RT 01 RW 02, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara datang ke TPU setelah mendapatkan bisikan gaib.

Baca:   Geger! Ada penampakan kota melayang di China, ini penjelasannya...

Kasus menggali kuburan untuk mendapatkan tali pocong masih sering terjadi. Tali pocong dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan dan kekayaan. Pemiliknya pun bakal disegani orang dan dikasihi. Tapi tentu itu hanya mitos. Kalau mau kaya tentu harus usaha, atau kerja keras. Lalu kenapa sekelas sarjana yang sudah menempuh pendidikan tinggi masih saja percaya hal-hal semacam ini?

Sosiolog Musni Umar menilai ada paradoks dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di satu sisi, mereka ingin modern dan sangat mengikuti kemajuan teknologi. Namun di sisi lain, ada sisi tradisional yang tak bisa hilang. “Ciri masyarakat kita menghadapi perubahan tradisional ke modern. Gadgetnya modern, produk teknologi maju, tapi perilakunya masih masyarakat tradisional,” kata Musni Umar, dikutip dari Merdeka.com.

Kepercayaan mistis ini sangat melekat dalam kehidupan masyarakat. Sudah beratus-ratus tahun mereka hidup dengan kepercayaan seperti itu. Hal ini yang tak bisa hilang begitu saja walau sudah zaman internet atau menempuh pendidikan tinggi. Karena itu ketika ada isu soal mistis, gaib dan semacamnya, banyak masyarakat yang masih langsung percaya.

Baca:   Nyata, Bayi Kembar Ini Punya Ayah Yang Berbeda

“Berpeganglah pada agama, jika hal itu bertentangan dengan agama jangan dilakukan,” pesan Wakil Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta ini. Aneh-aneh saja ya! Zaman sudah modern tapi pikiran masih jadul. Sudah gitu, sarjana lagi!