Ulah TV swasta berlama-lama siarkan kelahiran anak Raffi-Nagita disayangkan Menteri Kominfo

raffi-ahmda
Momen bahagia kini sedang dirasakan oleh Raffi Ahmad dan juga Nagita karena dikarunia anak laki-laki yang sehat. Sayangnya, kelahiran itu harus menuai banyak kontroversi karena disiarkan secara langsung melalui stasiun TV swasta. Bahkan durasi siaran langsung yang menayangkan proses kelahiran anak pertama dari artis Raffi Ahmda itu berlangsung selama 90 menit.

Hal ini tentu dianggap banyak orang sudah sangat berlebihan, apa lagi menggunakan saluran publik. Ini bukan kali pertama acara-acara yang terkait dengan Raffi Ahmda disiarkan oleh TV swasta secara langsung. Bahkan sudah beberapa kali dan pihak stasiun TV tersebut sudah sering mendapat teguran dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), namun tetap saja stasiun TV tersebut membandel dan terus berulah.

Baca:   4 Bentuk Potongan Rambut Terburuk Para Selebritis Dunia

“Pertama, sebagai masyarakat tentu saya sangat menyayangkan program yang hadir tidak berkualitas. Kedua, sebagai menteri saya mendukung penuh atas kebijakan KPI untuk menegur stasiun televisi tersebut,” ungkap Rudiantara, dikutip dari JPNN, Minggu 16 Agustus 2015.Ya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melalui Komisioner Danang Sangga, telah mengatakan bahwa Trans TV sering berulah. Padahal, stasiun televisi swasta itu sudah menerima teguran lantaran melanggar P3SPS, peraturan KPI.

Baca:   Ditinggal kawin, Bintang Sinetron Ini Juga Masuk Kristen?

“Pemerintah hanya bertanggung jawab terhadap sumber daya manusia. Kalau konten, itu urusan KPI sepenuhnya. Kalau KPI mau membuat aturan sanksi denda, itu bisa saja. Memang Undang-Undang Penyiaran akan ada perubahan tahun ini. Tinggal menunggu kepastian DPR, Komisi I,” tegas Rudiantara.

Menurut Rudiantara, memang sudah sepantasnya masyarakat mendapat tontonan bermutu dan bukan tontonan “sampah”. Baginya, peran KPI harus terus didukung agar menghasilkan tontonan bermutu. Mmm…semoga TV swasta yang lain bisa memberikan tayangan yang berkualitas ya. Jangan hanya mengejar rating tapi lupa terhadap kualitas tayangannya.