‘Wanita Emas’ klaim jadi orang pertama yang merancang ide BPJS

Wanita Emas

‘Wanita Emas’ mengklaim bahwa dirinyalah yang pertama kali mencetuskan ide BPJS. Meskipun begitu, ia tidak lantas membocorkan semua ide yang dimilikinya sehingga terlihat sampai saat ini implementasi BPJS saat masih salah. Klaim tentang BPJS itu disampaikan oleh Hasnaeni atau yang dijuluki Wanita Emas setelah mendapat pertanyaan dari seorang warga bernama Artika.

Pertanyaan itu dilontarkan dalam sebuah diskusi bertajuk “Menuju Kursi Empuk DKI 1” di Green Alia Cikini, Minggu (28/2/2016). Pertanyaan Artika berkaitan dengan pernyataan Hasnaeni yang ingin membuat warga DKI Jakarta hanya perlu menggunakan KTP untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

“Ini menarik. Saya tunggu janji anda. Saya sebagai orang kesehatan sudah puyeng mengurus yang namanya BPJS. Bagaimana cara Anda supaya orang bisa berobat hanya dengan membawa KTP? Saya akan tunggu janji anda,” ujar Artika di Green Alia Cikini, Menteng, dilansir Kompas.com, Minggu (28/2/2016). Hasnaeni menjawab pertanyan itu dengan pernyataan yang mengagetkan. Dia mengatakan bahwa dia adalah orang pertama yang membuat konsep tentang BPJS.

“Sebenarnya yang merancang dan mendesain ide awal itu dari saya. Makanya itu kenapa saya berani dengan konsep KTP ini,” ujar Hasnaeni. Hasnaeni mengatakan dia lah yang memberi ide soal itu kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan sewaktu dia masih menjadi staf khusus tidak resmi. Namun, dia mengaku tidak membocorkan seluruh konsepnya sehingga implementasi BPJS saat ini masih salah.

Baca:   Sebelum Meninggal, 'Bunda' Setor Rp200 Miliar ke Dimas Kanjeng untuk Dijadikan Rp18 Triliun

“Tapi saya enggak gunakan semua konsepnya karena mau saya gunakan juga kalau saya terpilih di DKI,” ujar dia.

Masih berambisi
Sudah beberapa kali Hasnaeni mengikuti proses pemilihan umum. Pada tahun 2010, Hasnaeni pernah menjadi bakal calon wali kota Tangerang Selatan dengan menggandeng Saipul Jamil. Namun, di pertengahan jalan, bakal calon wakilnya mengundurkan diri. Pada akhirnya, Hasnaeni batal mendaftar menjadi calon wali kota Tangerang Selatan. Gagal di Tangerang, Hasnaeni tidak menyerah dan kembali mencoba peruntungan untuk maju dalam Pilkada DKI 2012.

Awalnya, Hasnaeni percaya diri melenggang di bursa cagub dengan mengandalkan dukungan dari 25 partai koalisi non-parlemen atau partai-partai kecil yang tidak mendapat kursi di parlemen. Namun, dia kembali gagal mendaftar ke KPUD DKI. Kejadian itu sempat ramai karena Hasnaeni merasa tertipu oleh partai pendukungnya. Dia menuding mereka telah menipunya dan berbalik arah dengan mendukung pasangan calon lain, Alex Noerdin dan Nono Sampono.

Impian Hasnaeni ikut bertarung dalam Pilkada DKI 2012 kandas. Hasnaeni tidak menyerah. Dia kembali mencoba mengikuti pemilihan legislatif untuk menjadi anggota DPR RI pada tahun 2014. Namun, Hasnaeni gagal memperoleh dukungan yang cukup. Kini, beberapa partai politik sudah mulai mempersiapkan diri untuk Pilkada DKI 2017. Seakan tidak mau ketinggalan, Hasnaeni kembali muncul dengan membawa niat untuk menjadi DKI 1.

Pengurus harian DPP Partai Demokrat itu mengaku sudah ada komunikasi dengan beberapa partai politik terkait Pilkada DKI 2017. Meski demikian, kata dia, harus ada proses penjaringan calon terlebih dahulu untuk menentukan tokoh mana yang bakal diusung Partai Demokrat sebagai bakal calon gubernur. Padahal, Partai Demokrat sudah beberapa kali mengungkapkan akan mendukung Nachrowi Ramli, bukan Hasnaeni.

Baca:   Polisi Akan Jemput Paksa 'Wanita Emas' Terkait Penipuan

Kritik kepada Ahok
Sejak dulu, cara Hasnaeni melakukan sosialisasi kepada masyarakat hampir memiliki pola yang sama. Dia menyukai menempelkan foto dirinya di angkutan kota, seperti metromini ataupun kopaja. Menurut dia, cara tersebut lebih efektif mendekatkan diri dengan rakyat. Begitu pun caranya yang kerap membagi-bagikan uang dan sembako kepada masyarakat. Kemarin, dia mempraktikkan kembali cara itu meski menolak disebut berkampanye.

Hasnaeni juga mengkritik kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang menurutnya kurang merakyat. Tidak seperti dirinya, Hasnaeni mengkritik Basuki yang jarang blusukan. “Kalau saya lihat sejauh ini, Pak Ahok (Basuki) sangat jarang sekali menyentuh ke bawah. Waktu Pak Jokowi (jadi gubernur) masih sering blusukan,” ujar Hasnaeni. Menurut dia, seorang pemimpin harus dapat mengetahui kebutuhan, keadaan, serta permasalahan yang dihadapi warganya.

Gaya kampanye dengan membagikan uang sudah dilaksanakan Hasnaeni sejak lama dan tidak berhasil membawa dia untuk sekadar maju menjadi calon gubernur saja. Sekarang, dia menggunakannya lagi pada awal kemunculannya dalam “pemanasan” Pilkada DKI 2017. Kali ini, apakah cara Hasnaeni akan berhasil membawanya melenggang jadi gubernur DKI? Tentu masyarakat DKI yang bisa menjawabnya.