Wow! Bukan Hanya Jadi Pajangan, Toilet Emas Ini digunakan Untuk BAB Pula

toilet-emas

Salah satu sarana publik yang sangat mudah ditemui dimanapun adalah kakus atau toilet umum. Namun, sungguh tak terbayangkan jika WC menjadi salah satu atraksi museum. Bukan hanya sekadar sarana buang hajat. Tapi, itulah yang terlihat di salah satu museum di New York, Amerika Serikat. Bedanya, kakus yang ada di sana luar biasa, berlapis emas 18 karat.

Kakus yang dijuluki ‘Amerika’ tersebut dibuat oleh seorang pemahat dan seniman Italia, Maurizio Cattelan. Tak hanya dipajang, WC yang ada di Museum Guggenheim itu juga bisa digunakan. Koleksi tersebut menggantikan posisi kakus porselin di kamar kecil Museum Guggenheim di lantai 4.

Baca:   Unik, Bocah 5 Tahun Gunakan Celana dan Baju Yang Terbuat Dari Semangka

Pengunjung, baik pria maupun perempuan, yang sudah membayar tiket masuk museum, dapat menggunakan toilet tersebut dengan bebas. Museum yang terletak di jalan Fifth Avenue itu mendeskripsikan karya tersebut sebagai mahakarya ‘berani dan tidak sopan’. “Koleksi pameran itu bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Mereka bisa merasakan bagaimana rasanya ‘menduduki’ sesuatu yang mewah,” ujar museum tersebut.

Baca:   Mengejutkan, Tukang Kebun di Kanada ini Ternyata di Negaranya Adalah Seorang...

toilet-emas1

Pihak museum juga mengatakan bahwa dengan adanya toilet emas tersebut, pengunjung dapat merasakan ‘keintiman’ dengan karya seni yang sebelumnya sangat jarang sekali dapat dirasakan. “Apapun yang dimakan, mau itu makanan seharga US$ 200 atau US$ 2, semuanya akan jadi ‘sampah’ toilet,” ujar Cattelan yang memang dikenal dengan hasil karya kontroversialnya, seperti dikutip dari Newyorkpost.com.

Baca:   Menakjubkan, Ternyata Ini Fungsi Plastik Tipis yang ada di Dalam Tutup Botol, Kamu Mau Tahu?

Sementara itu pihak museum berpendapat bahwa toilet emas itu memberikan kesempatan untuk mewujudkan kesetaraan kesempatan untuk semua kalangan. “Toilet tersebut mengingatkan manusia tentang realitas tak terelakkan di lingkungan kita,” kata pihak berwenang Guggenheim.

loading...